RADARSOLO.COM-Bupati Wonogiri Setyo Sukarno sepakat terhadap usulan Ketua DPRD Wonogiri Sriyono tentang perlunya alokasi anggaran khusus untuk pencegahan pelecehan seksual di lingkungan sekolah.
Langkah ini dipandang mendesak menyusul terbongkarnya pelecehan siswi SMP di Wonogiri oleh guru olahraga berinisial J (55) yang telah terjadi selama belasan tahun.
Baca Juga: Asyik Mancing, Tiga Pelajar di Jumantono Karanganyar Terjebak Air Bah
Pemkab Wonogiri berkomitmen memperkuat mentalitas siswa dan orang tua agar memiliki keberanian dalam melaporkan setiap tindakan menyimpang yang mereka alami.
Bupati menilai bahwa faktor utama yang sering menghambat terungkapnya kasus kekerasan seksual di sekolah adalah adanya relasi kuasa yang timpang antara guru dan murid.
Ketakutan akan intimidasi atau dampak akademis sering kali membuat korban memilih untuk diam dalam jangka waktu yang lama.
Oleh karena itu, adanya anggaran khusus edukasi diharapkan mampu membedah batasan-batasan perilaku yang tidak pantas serta memberikan jaminan perlindungan bagi mereka yang berani bersuara.
“Bagi saya itu hal yang baik. Karena disitu muncul suatu keberanian,” tegas bupati.
Setyo menekankan bahwa edukasi ini memiliki cakupan yang luas, tidak hanya bagi anak tetapi juga lingkungan keluarga sebagai benteng pertahanan utama.
“Harapan kita, saat ada anggaran khusus itu bisa mengedukasi siswa. Tapi bisa juga mengedukasi orang tua. Butuh keberanian untuk bersuara,” paparnya.
Baca Juga: Ibu dan Anak Tewas Tenggelam di Embung Sigit Tangen, Ayah Berhasil Selamat
Setyo menegaskan bahwa tidak ada ruang toleransi bagi pendidik yang mencederai martabat profesinya.
“Guru yang seperti itu harus mendapat sanksi yang berat atas perbuatannya,” ujarnya.
Selain rencana pengalokasian anggaran baru, Bupati juga menyoroti pentingnya mengoptimalkan struktur organisasi anak yang sudah ada, seperti Forum Anak.
Organisasi ini dinilai strategis karena pendekatan antarteman sebaya biasanya jauh lebih efektif untuk menggali informasi sensitif dibandingkan pendekatan formal oleh orang dewasa.
Baca Juga: Jadi Tuan Rumah Forum Pokdarwis, Pemkot Solo Desak Pusat Hidupkan Kembali Anugerah Desa Wisata
Forum Anak yang selama ini telah dilibatkan dalam agenda Musrenbang Kabupaten diharapkan dapat meningkatkan kapasitasnya sebagai jembatan pengaduan kasus kekerasan.
“Ketika lewat teman sebaya, anak-anak bisa terbuka. Ini juga sudah terbentuk. Bisa dioptimalkan lagi peran dari Forum Anak,” kata Setyo.
Dengan kolaborasi antara anggaran edukasi yang memadai dan peran aktif Forum Anak, Pemkab Wonogiri optimistis dapat menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman dan transparan.
Pendekatan ini diharapkan mampu mengubah paradigma anak-anak dari posisi rentan menjadi subjek yang waspada dan tangguh terhadap potensi pelecehan.
Munculnya laporan kasus J di salah satu SMPN di Kecamatan Wonogiri Kota menjadi bukti bahwa benih-benih edukasi mengenai kekerasan seksual mulai menunjukkan hasil di tingkat akar rumput.
Keberanian para korban yang masih berusia remaja untuk menceritakan peristiwa pahit yang mereka alami menjadi momentum bagi pemerintah dan DPRD untuk memberikan dukungan sistemik.
Baca Juga: Komisi IV DPRD Solo Warning Pelaksanaan SPMB 2026: Haram Ada Praktik Titipan!
Edukasi yang akan dilakukan ke depan ditujukan agar kesadaran dan kewaspadaan ini merata di seluruh jenjang pendidikan di Wonogiri.
Ketua DPRD Wonogiri Sriyono sebelumnya menegaskan bahwa tanpa adanya anggaran yang terstruktur, program sosialisasi pencegahan pelecehan di sekolah akan sulit menjangkau seluruh siswa secara konsisten.
Gayung pun bersambut, dengan dukungan penuh dari eksekutif, Wonogiri bersiap menyusun formulasi pendidikan karakter dan perlindungan anak yang lebih komprehensif.
Langkah ini diambil agar kasus serupa tidak lagi terkubur bertahun-tahun sebagai fenomena gunung es, melainkan dapat dicegah sejak dini melalui sistem kewaspadaan kolektif. (al)
Editor : Tri Wahyu Cahyono