Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Lawan Kecanduan Gawai, Karang Taruna Kepatihan Selogiri Hidupkan Kembali Minggu Dolanan Lawas

Iwan Adi Luhung • Senin, 11 Mei 2026 | 11:15 WIB
Minggu Dolanan Lawas yang digelar di Lapangan Krumpyung, Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Minggu (10/5/2026). (IWAN ADI/RADAR SOLO)
Minggu Dolanan Lawas yang digelar di Lapangan Krumpyung, Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Minggu (10/5/2026). (IWAN ADI/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Lapangan Krumpyung, Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri berubah menjadi panggung keceriaan lintas generasi, Minggu (10/5/2026).

Warga yang terdiri dari anak-anak hingga orang tua berkumpul untuk menghidupkan kembali memori masa lalu melalui ajang Minggu Dolanan Lawas (MIDOLA).

Kegiatan yang diinisiasi oleh Karang Taruna Desa Kepatihan ini menjadi oase di tengah gempuran permainan digital dan ketergantungan gawai yang kini mendominasi keseharian generasi muda di pedesaan.

Baca Juga: Berapa Gaji Rekrutmen Calon Mitra Statistik Pendataan BPS 2026? Ini Rincian dan Perkiraannya

Berbagai jenis permainan tradisional yang mulai langka seperti lompat tali, boyman, hingga bentengan dimainkan dengan penuh antusiasme.

Suasana lapangan riuh oleh gelak tawa peserta yang larut dalam keseruan fisik dan kerja sama tim.

MIDOLA sengaja dirancang sebagai ruang interaksi sosial yang nyata, di mana masyarakat tidak hanya menonton, tetapi juga terlibat langsung dalam aktivitas yang menuntut gerak dan komunikasi tatap muka.

Tokoh masyarakat Kepatihan sekaligus anggota DPRD Wonogiri Azalea Puteri Utami mengungkapkan, kegiatan ini berawal dari kerinduan kolektif terhadap budaya bermain di kampung halaman.

“Dulu anak-anak bisa main sampai lupa waktu, lari-larian sampai baju basah kuyup karena keringat. Sekarang momen seperti itu mulai jarang ditemui. MIDOLA ingin menghadirkan kembali kebersamaan dan keseruan sederhana itu,” ujar Azalea di sela-sela kegiatan.

Kehadiran MIDOLA juga menjadi kritik sosial sekaligus solusi atas minimnya interaksi antarwarga akibat penggunaan gadget yang berlebihan.

Baca Juga: Kodim 0727 Karanganyar Serahkan 30 Mobil Operasional KDKMP, Dandim: Bukan untuk Operasional Kades

Permainan tradisional dinilai memiliki nilai filosofis yang kuat, seperti sportivitas, strategi, dan kebersamaan yang sulit didapatkan dari permainan daring (online).

Meski baru perdana dilaksanakan, respons masyarakat yang tumpah ruah di Lapangan Krumpyung menunjukkan bahwa kerinduan akan tradisi lama masih sangat tinggi.

“Ini memang masih langkah awal, tapi semangat teman-teman panitia dan respons masyarakat sangat positif. Kami berharap MIDOLA bisa terus berkembang dan menjadi agenda rutin desa,” beber Azalea.

Menurutnya, antusiasme warga dari berbagai kelompok usia membuktikan bahwa dolanan lawas memiliki daya tarik universal yang mampu menyatukan perbedaan latar belakang sosial di tingkat desa.

Baca Juga: Taspen Tegas! Gaji ke-13 Pensiunan PNS Bisa Terancam Gagal Cair Jika Syarat Ini Belum Dipenuhi

Melihat kesuksesan gelaran pertama, panitia dari Karang Taruna Desa Kepatihan berencana untuk mengemas MIDOLA menjadi agenda rutin yang lebih profesional tanpa menghilangkan sisi tradisionalnya.

Rencana terdekat, kegiatan serupa akan kembali digelar pada 31 Mei 2026 mendatang dengan target cakupan peserta yang lebih luas dan variasi permainan yang lebih beragam.

“Kami ingin MIDOLA menjadi ruang kebersamaan. Tidak sekadar bermain, tapi juga menghidupkan suasana desa dan mempertemukan kembali masyarakat lewat permainan tradisional,” tandas Azalea.

Melalui gerakan ini, Desa Kepatihan diharapkan menjadi pionir dalam pelestarian budaya lokal sekaligus membangun ketahanan sosial masyarakat melalui aktivitas yang sehat dan edukatif bagi pertumbuhan karakter anak-anak di masa depan. (al)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#DOLANAN LAWAS #midola #lapangan krumpyung #wonogiri #desa kepatihan