RADARSOLO.COM- Pemerintah Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri mengubah fungsi lahan tidur di wilayahnya menjadi produktif.
Area tersebut kini dialihfungsikan sebagai lokasi unit usaha budidaya perikanan yang dikelola oleh Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Pengembangan klaster perikanan darat ini berawal dari penilaian potensi wilayah oleh dinas terkait di tingkat kabupaten.
Desa Kepatihan dinilai memenuhi sejumlah kualifikasi teknis, mulai dari ketersediaan sumber pasokan air yang stabil hingga kepemilikan aset lahan desa yang representatif.
Kepala Desa Kepatihan Agus Suyitno menjelaskan, desanya terpilih menjadi satu dari 100 desa di seluruh Indonesia yang berhak menerima program bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk penguatan ketahanan pangan berbasis koperasi.
Pengurusan berkas proposal dimulai sejak tahun lalu hingga Surat Keputusan (SK) resmi terbit pada November 2025.
"Lahan ini sebelumnya lahan tidur. Kemudian kita buat rata. Dan akhirnya menjadi lokasi unit usaha KDKMP di sektor perikanan," ujar Agus Suyitno, Jumat (22/5/2026).
Melalui program bantuan pusat dengan taksiran nilai sekitar Rp500 juta tersebut, di lokasi lahan tidur kini telah dibangun infrastruktur pemeliharaan ikan berupa 24 unit kolam permanen.
Seluruh komponen pembentuk fasilitas budidaya disuplai langsung oleh pemerintah pusat.
"Kami cuma menyediakan bangunan saja. Atap, kolam sampai bibit ikan lele dari pusat. Ada pelatihan juga yang diikuti oleh pengurus unit ini," kata Agus.
Pada fase awal operasional, pengurus koperasi melakukan penebaran sebanyak 60 ribu ekor benih ikan lele.
Menurut kalkulasi teknis, jika pemanfaatan 24 kolam yang ada dioptimalkan secara maksimal, kapasitas tampung keseluruhan sarana tersebut mampu mengakomodasi populasi hingga 100 ribu ekor ikan.
Unit usaha baru ini juga telah menyelesaikan siklus produksi pertama dan melempar hasilnya ke pasar lokal.
Baca Juga: Resmi! Daftar Skuad Timnas Inggris untuk Piala Dunia 2026, Sejumlah Bintang Dicoret
"Sudah sempat panen, dapat 1,6 ton totalnya. Dibeli pedagang dan warga," jelas Agus.
Kendati mencatatkan hasil positif pada panen perdana, jalannya pengelolaan unit usaha ini sempat menemui hambatan teknis di lapangan.
Faktor perubahan cuaca berupa tingginya intensitas curah hujan di wilayah Selogiri menyebabkan fluktuasi suhu air kolam drop secara drastis, sehingga mengakibatkan sekitar 20 ribu ekor bibit lele mati pada fase awal pembesaran.
Peristiwa kematian bibit akibat faktor alam tersebut dijadikan sebagai bahan evaluasi dan pengalaman bagi jajaran pengurus untuk mematangkan sistem proteksi kolam ke depan.
Mengenai tata kelola finansial, manajemen KDKMP menerapkan sistem pemisahan kas antara unit usaha ritel dengan unit usaha perikanan ini.
"Unit ini dikelola berbeda dengan yang ritelnya. Hasil dari lele ini diputar untuk modal selanjutnya (di perikanan). Masalah untung rugi bisa dilihat ke depannya. Kalau sekarang pasti untung karena awal tidak mengeluarkan modal," pungkasnya. (*)
Editor : Tri Wahyu Cahyono