Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Khawatir Kondisi Makin Memburuk, Labuhan Ageng 2026 Tetap Digelar Meski Sederhana

Iwan Adi Luhung • Jumat, 12 Juni 2026 | 15:00 WIB
Foto ilustrasi: Labuhan Ageng di Pantai Sembukan Desa/Kecanatan Paranggupito 2025 lalu. (IWAN ADI/RADAR SOLO)
Foto ilustrasi: Labuhan Ageng di Pantai Sembukan Desa/Kecanatan Paranggupito 2025 lalu. (IWAN ADI/RADAR SOLO)

Khawatir Kondisi Makin Memburuk, Labuhan Ageng Tetap Digelar Meski Sederhana

RADARSOLO.COM - Tradisi Labuhan Ageng menjadi agenda tahunan di Pantai Sembukan Desa/Kecamatan Paranggupito.

Masyarakat mempercayai jika kegiatan tak digelar bisa ada bencana yang terjadi.

Di tengah kondisi fiskal yang minim, kegiatan tetap digelar secara sederhana namun tetap menjaga kesakralan.

Kepala Desa (Kades) Paranggupito Dwi Hartono mengatakan karena kondisi perekonomian yang sedang tidak baik-baik saja, Labuhan Ageng digelar secara sederhana. Adanya efisiensi termasuk di sektor dana desa turut menjadi penyebab.

"Tapi tetap ada kegiatan larung. Acara pokok secara sederhana," ujar Dwi Jumat (12/6/2026).

Sempat ada kemungkinan Labuhan Ageng tidak digelar. Meski demikian, warga tetap ingin agar agenda itu dilaksanakan.

Warga takut jika Labuhan Ageng tak dilakukan, bencana bisa terjadi di wilayah setempat.

Kades menerangkan Labuhan Ageng adalah wujud syukur masyarakat atas berkah yang telah diberikan Tuhan.

Rasa syukur itu diwujudkan dengan dilarungnya kepala, kaki dan ekor sapi ke Laut Selatan. Hasil Bumi juga ikut dilarung bersamaan dengan bagian sapi itu.

"Memang ada syarat untuk bagian tubuh yang dilarung itu," kata dia.

Adapun syarat bagian sapi yang dilarung diantaranya adalah bagian tubuh sapi jantan, berwarna putih dan memiliki tanduk. Syarat itu dipercaya harus dipenuhi.

Pernah ada pengalaman syarat itu tak terpenuhi. Dimana panitia hanya membeli bagian tubuh sapi yang diperlukan sehingga tidak diketahui apakah itu sapi jantan atau betina.

Saat dilarung saat itu, ombak seakan enggan membawa bagian tubuh sapi itu ke tengah lautan. Bagian tubuh sapi kembali ke Pantai Sembukan.

Kemudian beberapa hari kemudian ada sapi milik warga banyak yang mati tanpa sebab. "Warga banyak yang mempercayai itu ada hubungannya," kata dia.

Atas hal-hal itu, warga tetap ingin menggelar Labuhan Ageng meski kondisi fiskal mepet.

Apalagi saat ini pertanian di wilayah setempat kurang memuaskan karena serangan hama kera hingga landak.

"Tetap akan ada kegiatannya. Setelah disembelih, dagingnya nanti akan dibagikan ke lingkungan-lingkungan. Bisa dimasak sesuai selera untuk kegiatan tirakatan," kata Dwi.

Kegiatan Labuhan Ageng tahun ini disepakati akan digelar pada Selasa (16/6/2026) sore. Masyarakat berharap, berbagai permasalahan baik di desa atau kecamatan setempat hingga nasional bisa dihindari.

"Kondisinya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Semoga bisa lebih baik," pungkas kades. (al)

Editor : Nur Pramudito
#pantai sembukan #wonogiri #Labuhan Ageng