RADARSOLO.COM - Musim kemarau yang identik dengan minimnya air justru menjadi berkah bagi sebagian petani di Kecamatan Selogiri.
Mereka memanfaatkan lahan sawah tadah hujan untuk menanam tembakau sebagai komoditas alternatif yang dinilai lebih menguntungkan dibandingkan membiarkan lahan menganggur.
Salah satunya dilakukan Joko Rusdiyanto, petani asal Desa Jendi, Kecamatan Selogiri.
Baca Juga: Benarkah "Bajingan" Bukan Sebuah Makian? Begini Sejarah dan Pergeseran Maknanya
Selama dua tahun terakhir, dia rutin menanam tembakau setiap musim kemarau.
Menurutnya, komoditas tersebut mampu menjaga lahan tetap produktif sekaligus memberikan keuntungan ekonomi.
Jika musim hujan, dia menanam melon, semangka, dan cabai.
Namun memasuki musim kemarau, keterbatasan air membuat tanaman hortikultura sulit dibudidayakan.
"Tembakau jadi alternatif agar lahan tetap produktif," ujar dia.
Baca Juga: Lewat Program Yatim Bahagia, BAZNAS Wonogiri Salurkan Santunan Rp60 Juta untuk 150 Anak
Di lahan seluas sekitar 2.000 meter persegi, Joko menanam 4.000 batang tembakau.
Dari luasan tersebut, dia memperkirakan hasil panen tembakau kering mencapai sedikitnya 4 kuintal.
Dengan harga jual berkisar Rp30 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram, bergantung kualitas, omzet yang diperoleh diperkirakan minimal Rp12 juta.
Nilai tersebut dinilai cukup menjanjikan karena biaya produksi selama sekitar tiga bulan masa tanam hanya berkisar Rp 5 juta.
Apalagi, seluruh hasil panennya telah memiliki pasar tetap dan diserap perusahaan mitra di Kabupaten Klaten.
"Yakin hasil panen tahun ini lebih baik dibanding musim kemarau tahun lalu. Kemarau yang lebih kering akibat fenomena El Nino justru sesuai dengan karakter tanaman tembakau yang tidak membutuhkan banyak air," beber Joko dia.
Kabid Produksi dan Penyuluhan Dinas Pertanian Wonogiri Shidiq Purwanto mengatakan, budidaya tembakau di Kecamatan Selogiri memang mulai berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
Saat ini luas lahan tembakau di wilayah tersebut diperkirakan telah mencapai sekitar lima hektare.
Baca Juga: Bukan Sekadar Proses Pengerasan Logam, Ini Filosofi Mendalam Penyepuhan Keris
"Selogiri sangat memungkinkan untuk ditanami tembakau karena banyak lahan sawah tadah hujan. Hanya saja, perawatannya memang harus lebih intensif dibanding tanaman padi," jelasnya.
Adapun sentra produksi tembakau di Wonogiri hingga kini masih didominasi wilayah selatan seperti Kecamatan Eromoko, Wuryantoro, dan Giriwoyo. (al)
Editor : Tri Wahyu Cahyono