”Rata-rata pencari kerja usia produktif. Didominasi lulusan SMA dan SMK, tapi lulusan sarjana, SMP maupun SD juga ada, asalkan sudah memiliki KTP. Kemudian pencaker dari Januari -Juni ini sudah mencapai 3.660 orang,” kata Kepala Bidang Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja (Penta), Dinas Koperasi dan Tenaga Kerja (Diskopnaker) Sugeng Priyanto kepada Jawa Pos Radar Solo, Selasa (19/7).
Sedangkan pada 2021 mencapai 7.829 orang. Meski jumlahnya cukup tinggi, angka lowongan kerja di Kota Susu sangat mencukupi. Pada 2021 ada 16.637 lowongan. Sedangkan tiap tahunnya mencapai belasan ribu. Didominasi perusahaan dan pabrik garment yang tersebar di beberapa kecamatan.
”Sebenarnya jumlah lokernya sangat mencukupi. Bahkan turah-turah (Sisa,red). Terutama pabrik garment, bahkan sampai harus mencari pekerja dari luar Jawa Tengah. Namun, masih ada pemcaker yang milih-milih, nggak mau di pabrik,” katanya.
Pihaknya pun meningkatkan skill pencari kerja melalui program pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK). Sampai Juni 2022, sudah ada 240 orang yang mengikuti kegiatan pelatihan. Mulai dari program keahlian menjahit, teknik mesin, teknik informatika, pengoperasian mesin bubut, pertukangan hingga boga.
”Rata-rata minat orang-orang Boyolali lebih pada boga. Setelah keluar biasanya membuka UMKM. Selain itu banyak juga yang berminat pada promosi online. Selain itu juga langsung kami bantu salurkan ke perusahaan yang sudah kerjasama dengan kita. Seluruh pelatihan, snak, makan, modul, seragam kejuruannya juga gratis,” terangnya. (rgl/adi/dam) Editor : Damianus Bram