Hamparan lahan pertanian meluas hingga ujung mata. Di sisi timurnya, Gunung Merapi, lengkap dengan lautan pasir di puncaknya berdiri megah. Semburan awan panas dari puncak gunung inilah yang meluluhlantakkan dua dusun di Desa Klakah, Selo, pada 1945 silam. Dusun Pencar Atas dan Pencar Bawah. Kini, hanya menyisakan hamparan lahan pertanian dan pemakaman kuno yang masih dirawat para ahli warisnya.
"Senin pahing, gluduge gunung 1954 kepungkur. Kala mbiyen, sami mlanjar (Senin pahing, meletusnya gunung pada 1954 silam. Dahulu, pada lari semua, Red)," ungkap Parli Martono, 68, warga Bangunsari.
Pria parobaya kelahiran Dusun Kajor, Desa Jrakah Selo ini memperlihatkan hamparan ladang berisi kubis. Ditunjuknya jalan di sisi utara ladangnya. Jalan cor beton selebar dua meter tersebut merupakan akses utama ke Dusun Pencar Atas dan Pencar Bawah.
Ladang yang dia olah sekarang merupakan bekas perumahan warga Dusun Pencar Bawah. Tepat di bawahnya, masih terdapat makam bekas Dusun Pencar Wetan. Pemakaman tersebut sampai saat ini masih digunakan oleh warga Bangunsari, Klakah.
Dia mengajak ke arah barat, ada jalan setapak yang sudah dicor beton. Jalan selebar satu meter di antara ladang warga tersebut dahulunya jalan kampung. Di seberangnya, terdapat pohon kinah raksasa. Namun, bagian akar yang condong ke jalan tampak sudah berlubang cukup besar. Tapi akarnya kokoh menyangga pohon dan dedaunan lebat. Konon, pohon kinah inilah yang mampu bertahan saat terpaan wedus gembel Merapi 1954 silam.
"Warga lari semua. Yang selamat, ada yang lari ke Tuk Pakis, Candi Merapi. Kalau blok ngisor (Pencar Bawah) lari ke Bangunsari, Bangunrejo, Klakah. Lalu ada yang ke Kajor Bawah. Ada satu dua lari ke Sumber dan Bakalan, Kecamatan Selo," katanya.
Kompleks perkampungan tersebut diampit dua kali aliran Merapi. Yakni, Kali Gondang, Kali Anggrung dan Kali Lowo. Rumah-rumah warga juga terdapat lahan pertanian. Sayangnya, saat erupsi 1954, banyak warga yang tidak menyadarinya. Termasuk, kakeknya dan ayahnya, Marwoto yang tinggal di Pencar Atas.
Beruntung, sang ayah bisa melarikan diri dan selamat dari terpaan wedus gembel. Sedangkan sang ibu, bisa selamat. Namun, mengalami sejumlah luka bakar di bagian lengan dan tangan. Karena kejatuhan abu panas dari wedus gembel.
"Bapak cerita ke saya langsung. Nak, yen neng tegal Pencar, ngati -ngati. Wong ndek biyen wis ra keno dinggoni (Kalau ke ladang Pencar, hati-hati. Karena dulu sudah tidak bisa ditempati lagi, Red). Nah, kadang bisa gludug gunung lagi" ujar Parli menirukan pesan bapaknya.
Nasihat bapaknya tersebut terus dipegang hingga kini. Agar selalu waspada setiap Gunung Merapi “punya gawe”, ataupun dia bekerja di ladang Pencar. Saat ini, bekas perkampungan Pencar berganti wajah menjadi lahan pertanian. Dia memiliki lahan di Pencar Bawah maupun Pencar Atas.
Meski kejadian erupsi sudah berlalu 69 tahun silam, rasa memiliki dan merawat makam leluhur masih dilakukan. Bekas warga Pencar masih sering berkunjung. Paling tidak saat musim sadranan bulan Ruwah penanggalan Jawa. Mereka yang memiliki waris di Pemakaman Pencar akan berkunjung dan membersihkan makam.
Warga lainnya, Parman, 58, masih mengingat cerita tutur orang tuanya. Saat ditemui Jawa Pos Radar Solo, dia akan mencari rumput di ladangnya. Dia menunjuk hamparan tanah bekas paculan tersebut siap untuk ditanami komoditas sayur. Di sisi timurnya, puncak Merapi terlihat sangat jelas. Bahkan asap tipis di puncaknya hingga batu dan hamparan pasir memutih seakan tak jauh dari jangkauan.
"Saya dapat cerita, kalau mbah-mbah saya dari Pencar Bawah. Termasuk ladang ini dulu rumah mbah saya. Dulu rumahnya kan dari kayu semua. Kalau sudah kesapu (wedus gembel) ya tidak tersisa. Sekarang jadi lahan pertanian. Memang bapak saya selalu pesan agar hati-hati dan waspada kalau ke ladang," kata Parman sambil menunjuk ladang.
Parman lantas mengantarkan koran ini menuju bekas pemakaman warga Pencar Atas. Satu-satunya bekas dusun yang tersisa dari amukan wedus gembel. Pemakaman tua di atas bukit dikelilingi ladang tersebut masih terawat. Beberapa makam diberi nisan batu. Kebanyakan lainnya berupa gundukan urugan pasir dengan bentuk tumpeng lancip.
"Amit-amit mbah buyut (permisi mbah buyut)," ujar Parlan, ungkapan sopan santun saat akan menaiki bukit area pemakaman.
Dia menuturkan, meski tak lagi digunakan, pemakanan Dusun Pencar Atas masih terawat. Waris-warisnya menyebar di daerah Jrakah. Meski sudah memasuki generasi kedua, keluarga dari cucu dan cicit mendiang yang dikuburkan di sana masih kerap menengok. Baik sekadar mendoakan dan membersihkan makam. Maupun sebagai pengingat para leluhur yang berpulang dipangkuan Gunung Merapi. (rgl/bun/dam)
Dusun Yang Hilang Akibat Erupsi Merapi
1930
- Dusun Seluman di Desa Sidoarjo, Klaten, musnah.
- Berjarak 4,3 kilometer arah tenggara dari puncak Merapi
- Saat kejadian letusan tidak ada warga yang selamat
- Saat ini, wilayah yang masuk kawasan TNGM itu dipenuhi rumput dan pepohonan.
1954
- Dusun Pencar di Desa Klakah, Kecamatan Selo, musnah.
- Berjarak sekitar 2 kilometer dari Gunung Merapi
- Saat ini tak lagi menjadi permukiman warga
1961
- Empat desa di Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang hilang.
- Saat ini tak berpenghuni lagi.
- Secara administrasi telah dihapus oleh Pemprov Jawa Tengah.
1994
- Dusun Turgo, Sleman, DIY ditutup dan dijaga aparat militer serta kepolisian setelah 43 warga tewas terkena erupsi.
- Warga dipaksa mengungsi dan dilarang kembali.
- Warga tetap kembali sekalipun dusun mereka hancur dilanda awan panas.
2010
- Sembilan pedukuhan di Sleman tersapu awan Gunung Merapi
- Bupati memutuskan melarang kawasan itu dihuni manusia
- Tak ada kejelasan status hak dan tanah warga