RADARSOLO.COM-Seperti umumnya sumber mata air yang ada di berbagai daerah, Umbul Ngabean yang terletak di kompleks pemandian Tirtomarto Umbul Pengging, Kecamatan Banyudono, Boyolali menyimpan mitos yang dipercaya sebagian masyarakat.
Masih banyak yang melakukan tirakat dengan berendam di umbul tersebut setiap malam, khususnya di malam Jumat Pahing.
Sukardi, salah satu pengelola di Umbul Ngabean mengatakan, warga yang datang untuk melakukan tirakat tidak hanya berasal dari wilayah Boyolali. Melainkan banyak yang datang dari wilayah Soloraya.
“Mintanya berbeda-beda, tergantung dari orangnya tirakat itu mau apa, kalau di sini (Umbul Ngabean), dipercaya bisa naik pangkat,” jelas Kardi.
Dia menuturkan, bahwa hanya Umbul Ngabean dan Umbul Dudo yang sering digunakan untuk tirakat dari 4 umbul yang ada di kompleks pemandian Tirtomarto.
Lain hal dengan Umbul Ngabean, di Umbul Dudo, biasanya masyarakat meminta hajat untuk kelangsungan usaha yang sedang dijalankan.
Namun, mayoritas lebih banyak masyarakat yang melakukan tirakat di Umbul Ngabean.
Sebab, kolam di umbul tersebut merupakan bekas pemandian raja keraton Surakarta, yakni Pakubowono X.
“Mungkin karena bekas dari raja, jadi banyak yang percaya bisa menaikkan derajat,” tambahnya.
Selain digunakan sebagai tempat tirakat, di kolam tersebut juga banyak digunakan sebagai lokasi terapi kesehatan.
Biasanya, banyak warga yang menderita penyakit saraf, stroke, serta lansia yang berendam di Umbul Ngabean setiap pagi.
Diketahui Umbul Ngabean masih terletak satu kompleks dengan Umbul Pengging yang juga sering digunakan untuk ritual kungkum.
Kompleks Umbul Pengging dibangun pada masa pemerintahan Pakubowono X dari keraton Surakarta antara tahun 1893-1939.
Nuansa khas pemandian raja yang elegan serta eksklusif dan sepi juga menambah kekhusyukan orang yang tengah melakukan ritual kungkum. (fid)
Editor : Tri wahyu Cahyono