RADARSOLO.COM-Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti mengunjungi Boyolali, Rabu (26/11/2025).
Tepatnya ke pabrik pembuatan kerajinan keramik handmade di PT Nuanza Porcelain, Desa Ngadirojo, Kecamatan Gladagsari, Boyolali.
Dalam kunjungannya, Dyah meninjau secara langsung pembuatan kerajinan. Mulai dari bahan baku hingga proses pembuatan. Dia juga juga mencoba membuat keramik.
Setelahnya, Wamen mengunjungi galeri hasil produk keramik handmade, Mulai dari piring, gelas, mangkuk, teko, hingga patung.
“Kami melihat dari supply chain-nya seperti apa. Kebetulan Kementerian Perdagangan juga sudah memberikan asistensi kepada pelaku yang bergerak di bidang keramik. Agar mereka bisa meningkatkan kualitas dari desain yang dibuat,” bebernya.
Kementerian Perdagangan juga ikut membantu memfasilitasi pelaku usaha keramik agar bisa merangkul pasar internasional.
Menurut Dyah, Boyolali mempunyai potensi besar di sektor keramik, serta sejenisnya.
Saat ini, Kementerian Perdagangan mempunyai program bernama UMKM Bisa Ekspor.
Program tersebut didukung dari perwakilan mereka di 33 negara.
“Dan setelah berdiskusi, PT Nuanza ini sudah ekspor ke beberapa negara. Ini sebuah kebanggaan, Boyolali tentunya. Bahwa ekspornya sudah ke Eropa, Amerika, India juga,” lanjutnya.
Ke depan, pihaknya akan terus mendukung produk-produk lokal agar tidak hanya sekadar bisa ekspor, melainkan bisa lebih dikenal oleh pasar internasional.
“Salah satu langkah kecil yang kita lakukan, ketika ada forum-forum internasional, kita menampilkan, ataupun memberikan hasil karya produknya. Salah satunya ini akan kita bawa juga, di G8 yang akan datang,” bebernya.
Dyah menambahkan, mulai tahun 2020-2024, terjadi pertumbuhan sebanyak 19,98% untuk ekspor home decor.
Sementara nilai ekspor tahun 2025 periode Januari-September mengalami kenaikan sebesar 9,57% dibanding tahun sebelumnya.
Jumlah tersebut lebih tinggi dari target, yakni kenaikan sebesar 7% ekspor umum.
Sementara itu, Direktur PT Nuanza Porcelain Indonesia Bagus Pursena mengatakan, pabrik di tempatnya banyak menghasilkan produk table ware. Yakni mangkok, piring, dan gelas.
“Kalau sekarang ini pangsa pasar terbesar itu dalam negeri. Kira-kira 80-90%, kebanyakan untuk kebutuhan resto. Kalau sebelum pandemi, banyak permintaan proyek seperti hiasan dinding,” ujarnya.
Dalam sebulan, produksi di PT setempat mencapai 12 ribu pcs table ware untuk pasar lokal.
Untuk pasar internasional, pabrik tersebut mengekspor ke India, Amerika, Eropa Barat, serta Timur Tengah.
Untuk pasar Timur Tengah, lebih banyak permintaan keperluan bangunan.
Terkait program UMKM Bisa Ekspor, Bagus merasa sangat terbantu.
Sebab, bisa lebih banyak pembeli, dan memperkenalkan produk di luar negeri.
“Sangat terasa, karena seperti yang ke Jepang dan Singapura itu, kita dapat setelah ada acara dari kementerian dan dinas, sebagian besar untuk resto, kalau sekarang jumlahnya belum terlalu banyak, kurang dari satu kontainer,” tuturnya. (fid)
Editor : Tri wahyu Cahyono