RADARSOLO.COM– Tradisi ziarah kubur atau nyadran menjelang bulan suci Ramadhan membawa berkah sekaligus tantangan bagi para petani bunga di lereng Gunung Merapi.
Tingginya permintaan pasar yang tidak diimbangi dengan jumlah produksi akibat cuaca ekstrem membuat harga bunga mawar melonjak hingga dua kali lipat dibanding tahun lalu.
Kenaikan Signifikan di Tingkat Petani
Di sentra bunga mawar seperti Desa Sruni, Kecamatan Musuk, harga bunga mawar untuk keperluan tabur bunga kini menyentuh angka Rp 75 ribu hingga Rp 80 ribu per ceting.
Harga ini jauh melampaui tren pada periode yang sama tahun lalu.
Rusmini, salah satu petani mawar di Desa Sruni mengungkapkan, lonjakan ini merupakan yang tertinggi dalam beberapa musim terakhir. "Tadi pagi harga paling tinggi mencapai Rp 80 ribu per takar ceting. Ini jauh lebih tinggi daripada musim ziarah tahun lalu yang hanya berkisar Rp 35 ribu hingga Rp 50 ribu," ujarnya, Kamis (5/2/2026).
Produksi Terhambat Curah Hujan Tinggi
Melonjaknya harga mawar bukan tanpa alasan. Para petani di wilayah Musuk dan Tamansari harus berhadapan dengan anomali cuaca. Curah hujan yang tinggi di wilayah lereng gunung menyebabkan tanaman mawar melambat dalam proses berbunga.
Tentrem, petani sekaligus pengepul mawar asal Desa Mriyan, Kecamatan Tamansari, menjelaskan bahwa dalam kondisi normal, petani biasanya mampu memanen bunga mawar hingga dua kali sehari dengan volume yang melimpah.
“Sekarang hujan masih sangat tinggi, itu menghambat tanaman untuk cepat berbunga. Akibatnya, kami hanya bisa panen sekali dalam sehari dengan jumlah yang terbatas,” ungkap Tentrem.
Pasokan Menipis, Permintaan Memuncak
Fenomena "kelangkaan" ini terjadi tepat saat warga mulai berbondong-bondong melakukan tradisi nyadran ke makam kerabat.
Hukum pasar pun berlaku; dengan stok yang menipis sementara pencari bunga tabur terus meningkat, harga mawar diprediksi akan tetap tinggi hingga memasuki hari pertama Ramadan.
Kondisi ini menjadi dilema bagi petani. Di satu sisi mereka menikmati harga jual yang tinggi, namun di sisi lain mereka kesulitan memenuhi permintaan pasar karena faktor alam yang tidak mendukung produktivitas lahan. (fid)
Editor : Tri wahyu Cahyono