SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo
Kopral Bagyo yang juga kerap disapa Kopral Besar ini masih saja memiliki ide-ide unik untuk memperingati hari-hari besar nasional atau nyeleneh dalam mengkomentari isu-isu populer yang tengah berkembang di masyarakat. Pemegang rekor MURI dalam Push Up 24 jam ini mengaku aksi-aksi yang dulu dilakukan sampai hari ini masih ia lakoni dengan senang hati meski tidak selaku mendapat apresiasi yang baik. Kadang kala ia harus berhadapan dengan hukuman dari atasan lantaran melakukan aksi berbahaya tanpa minta izin pada komandan kesatuan tempatnya bertugas dulu.
“Saya ini punya ide yang dianggap orang nyeleneh. Misalnya aksi mandi air AKI, mandi air cabai, minum oli, dan sebagainya. Kalau izin komandan tentu tidak diizinkan, kalau mati siapa yang mau tanggung jawab,” kelakar dia.
Dampak dari melakukan aksi-aksi nyeleneh itulah yang membuatnya harus menerima konsekuensi hukuman dari atasannya kala itu. Kopral Bagyo ingat betul beberapa kali dirinya sempat harus di sel di markasnya karena melakukan aksi tanpa izin. Tak jarang dirinya juga harus menerima hukuman piket selama beberapa waktu sebagai buah yang ia tuai pasca melakukan hal berbahaya atau yang nyeleneh-nyeleneh.
“Dalam melakukan aksi itu ada yang izin, ada yang tidak izin, ada juga yang melakukan dulu baru izin. Makanya dulu itu saya sering dihukum, pernah di 3-4 kali masuk sel, pernah di sel empat hari, piket 3 kali 24 jam, piket tujuh hari tujuh malam. Karena sudah pensiun tidak masalah kalau saya cerita,” kata dia sambil mengenal cerita-cerita lucu dibalik aksi-aksi yang dilakukan.
Di satu sisi lainnya, Kopral Bagyo diapresiasi dengan baik oleh jajaran TNI karena dianggap sebagai representasi baik di muka publik. Oleh sebab itu ia diberi izin untuk bisa memakai semua baret TNI dari berbagai kesatuan yang berbeda-beda. “Saya diberi izin oleh pimpinan TNI untuk pakai berbagai baret dari semua kesatuan TNI karena aksi-aksi saya dianggap baik. Karena itu saya berani bilang kalau tidak ada seorangpun prajurit yang berani demo kecuali Kopral Bagyo,” kata mantan pensiunan TNI yang mulai melakukan aksi-aksi nyelenah dan berbahaya saat usianya masuk 46 tahun itu.
Dibalik pembawaannya yang santai dan ramah dengan berbagai kalangan, banyak yang belum tahu jika Kopral Bagyo merupakan sosok yang serius dan religius. Keseriusannya itu terlihat jelas dari keberaniannya melakukan aksi berbahaya, sementara kereligiusannya itu tergambar lewat keyakinan bahwa pencapaiannya saat ini tidak mungkin ada tanpa campur tangan Tuhan YME.
“Saya ini merasa diberi sedikit kelebihan oleh Tuhan dalam hal fisik. Bisa dibilang kalau orang biasa push up 20-30 capek, maka saya bisa lebih. Tentu aksi berbahaya itu harus lewat proses latihan dan trik (siasat) untuk meminimalkan risiko yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Makanya saya bilang aksi-aksi saya ini tidak untuk ditiru oleh orang lain,” beber dia.
Kopral Bagyo mengaku semua aksi yang ia lakukan tidak dilakoni dengan membawa namanya sendiri, melainkan demi memajukan TNI, khususnya korp yang dia tempati kala itu. Lumrah saja sebab pria asli Banyuwangi yang masih memiliki darah Belanda dari sang ayah itu memang bercita-cita jadi prajurit sejak masih bocah.
“Sejak kecil itu saya memang pengin perang, makanya setelah lulus Sekolah Teknik (setingkat SLTP) saya langsung daftar TNI dan diterima. Saya relakan untuk tidak meneruskan pendidikan ke jenjang SLTA agar adik-adik saya bisa sekolah. Puji Tuhan sekarang semuanya berhasil, saya dan saudara saya yang laki-laki semua jadi aparat ada yang TNI AD, AL, dan di Kepolisian, yang perempuan ada yang di kesehatan dan ada yang di pendidikan. Sesuai dengan keinginan kedua orang tua saya. Pencapaian terbesar saya adalah pernah mengawal RI 1 dan tamu VVIP sekelas kepala negara, waktu itu ada Ronald Reagen, Lady Diana, dan terakhir di KTT Non Block 1992,” tutup dia. (ves/dam) Editor : Damianus Bram