Seperti yang terjadi di Pondok Baru Asri 2 RT 04 RW 02, Gumpang, Kartasura. Saat asyik memancing di persawahan, sejumlah anak dikagetkan dengan munculnya ular bernama latin Himalopsis Buccata.
Dari persawahan, ular kadut masuk ke permukiman. Warga pun tambah panik. “Akhirnya saya ke lokasi. Ternyata hanya ular buhu. Ibu-ibu yang panik,” ujar Bima Chrisna Yudha, seorang rescuer ular.
Setelah diamankan, ular tersebut dipelihara oleh Bima. Dijadikan bahan edukasi kepada warga bahwa tidak semua ular berbisa. “Khusus jenis ini (ular kadut) tidak berbahaya bagi manusia. Meskipun dalam penelitian ular ini sedikit memiliki bisa, tapi tidak berpengaruh pada manusia,” beber dia.
Diterangkan Bima, 80 persen hidup ular kadut dihabiskan di perairan. Karakteristiknya tidak terlalu agresif.
"Ular air cenderung tidak seagresif ular lain (yang hidup di tanah atau pohon). Mangsa utamanya ikan atau hewan yang ukurannya lebih kecil. Di musim hujan seperti ini, sering masuk ke permukiman," ungkapnya.
Himalopsis Buccata tersebar luas di Asia Tenggara dengan lokalitasnya masing-masing. Di Indonesia, sisiknya cenderung bercorak garis-garis gelap dari atas mata hingga kepala bagian belakang.
Ketika memangsa buruannya, ular kadut terlebih dahulu melilitnya hingga lemas. Ukuran maksimalnya hanya sepanjang satu meter.
Ditambahkan Bima, bagi mayoritas pecinta reptil, ular kadut dianggap kurang eksotik karena terlalu mudah ditemukan. Namun sebagian lain tetap memelihara untuk membedakan jenis fisik ular kadut dari berbagai daerah.
"Ular berbisa atau tidak, berbahaya atau tidak, itu bisa dilihat dari pola gigitannya. Ular berbisa gigitannya tidak menimbulkan bengkak, tapi kalau yang tidak berbisa malah menimbulkan bengkak," terang Bima. (ves/wa/dam) Editor : Damianus Bram