Warna daun Jemani Pink perpaduan hijau tua dan pink. Tidak bisa sembarangan, Jemani Pink hanya bisa menor warna pink-nya jika dirawat di hawa dingin namun tetap ada sinar matahari. Alias di dataran tinggi.
”Nah, Jemani Pink ini contoh hasil persilangan. Dulu Anthurium hanya dikenal jenis jemani atau gelombang cinta saja. Kemudian berkembang lagi, jemani ada jenis mangkok dan eka. Lalu ada lagi, jenis varigata. Nah, sekarang ada Jemani Pink. Ratusan juta ini harganya, yang kecil saja sudah Rp 10 juta harganya,” beber Ketua Komunitas Anthurium Solo Raya Eko Irianto kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.
Ditemui di green house miliknya, pria yang tenar sebagai jawara kontes Anthurium ini menyebut merawat Anthurium yang memiliki beragam jenis harus disesuaikan kebutuhan masing-masing tanaman. Ambil contoh, untuk Anthurium berdaun hijau, terkena sinar matahari langsung, tidak masalah. Tidak akan terbakar daunnya. Namun beda cerita, jika jenis varigata. Daunnya mudah terbakar. Kendati di dalam green house yang sudah dinaungi paranet.
”Nah, kalau Jemani Pink sekarang ini masih terus dilakukan percobaan. Agar nanti di tempat tropis, warna pink-nya tetap bisa keluar. Jadi bisa dirawat selain di dataran tinggi. Ini masih proses inovasi persilangan terus,” sambung Penasihat Komunitas Anthurium Nasional ini.
Eko yang sudah berkecimpung di dunia Anthurium sejak 2007 silam ini mengaku masih terus belajar memahami dan merawat Anthurium. Sebab kebutuhan mulai dari media tanam, sirkulasi udara, sampai sinar matahari berbeda tiap jenisnya. Tiap jenis tanaman punya treatment yang berbeda.
”Intinya, pehobi atau yang memelihara tanaman wajib mengikuti tanamannya. Bukan tanaman yang mengikuti pehobinya. Jadi pehobi itu wajib tahu kebutuhan tanamannya satu per satu,” imbuh pria yang akrab disapa Eko Kobra ini.
Terlebih bagi Eko yang memang merawat tanamannya untuk mengikuti kontes. Penilaian untuk bisa menjadi juara kontes, tanaman wajib rapi, daun lebat, dan berkarakter. Entah daunnya lebih tebal, lebih bulat, atau lebih berserat. Nah, jika daunnya sudah terbakar karena kepanasan, tidak bisa lagi diikutkan kontes. Solusinya, dirawat sampai menjadi indukan atau diremajakan dengan metode vegetatif.
”Kalau mau dipersiapkan sebagai tanaman kontes, tumbuhnya harus teratur. Jangan sampai daunnya mengecil. Jangan sampai ada kutu dan hama yang membuat lubang di daun. Kalau sudah ada lubang, tidak bisa dinilai,” imbuhnya.
Dalam kontes, ada tiga penilaian. Kesehatan tanaman, performa, dan karakter. Untuk bisa mendapatkan nilai terbaik, lanjutnya, daun harus sehat tidak ada luka, dari penampilan beberapa sisi tanaman harus rapi dan berdaun lebat. Kemudian karakter daunnya istimewa. Tebal, bulat, dan unik.
”Nah, untuk mendapatkan tanaman yang sesuai dengan penilaian kontes itu, saya pakai media tanam campuran. Akar pakis, brambut, dan klentheng. Ini cocok di tempat tropis. Kalau di tempat dingin, tidak cocok. Harus menyesuaikan lokasi,” jelasnya.
Eko juga berpesan bagi pecinta tanaman yang ingin mulai mengikuti kontes wajib melakukan penyiraman dua hari sekali, dua kali sebulan melakukan pengobatan insektisida, dan sepuluh hari sekali melakukan pemupukan. (aya/adi/dam) Editor : Damianus Bram