RADARKARANGANYAR.COM-Nama Kabupaten Karanganyar merupakan pemberian Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara I alias Raden Mas Said alias Pangeran Sambernyawa.
Tak heran di Bumi Intanpari betebaran petilasan Mangkunegaran. Salah satunya Pesanggrahan Mangkunegaran di Dusun Keprabon, Desa/Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar.
Menurut catatan sejarah, kompleks Pesanggarahan Mangkunegaran dulunya didirikan Mangkunegara II.
Kemudian pada 1861, pesanggrahan ini sempat direnovasi pada masa Mangkunegara IV.
Dalam prosesnya membutuhkan waktu lama, hingga kepemimpinan Mangkunegara VII pada 1922.
Sesuai arsip berujudul Sejarah Kerajaan Mangkuneran yang disusun RM Mr. A.K. Pringgodigdo.
Di pesanggarahan ini juga memiliki sebuah balkon, yang dulunya dimanfaatkan untuk menyaksikan pertandingan olahraga.
Kemudian pada gapura pesanggrahan, dulunya sempat ada lambang Radya Laksana, simbol Keraton Kasunanan Surakarta dan Soerya Soemirat yang berdampingan.
Ini mengisyaratkan harmonisasi renovasi di masa Mangkunegara VII dan Sunan Paku Buwono (PB) X, yang ikut membantu upaya renovasi pesanggrahan.
Karena dulu harapannya, renovasi ini bisa disewakan untuk umum. Namun karena sepinya minat masyarakat untuk menyewa, akhirnya tempat ini ditutup pada 1931.
Pantauan radarkaranganyar.com, kawasan sekitar ditumbuhi semak belukar. Tembok pesanggrahan catnya banyak yang mengelupas dan berjamur.
Kendati demikian, kayu dan genting atap bangunan tersebut masih utuh.
Cerita yang berkembang, Pesanggrahan Mangkunegaran tersebut dulunya rumah singgah atau penginapan sementara bagi para petinggi Pura Mangkunegaran. Terutama para adipati kadipaten atau praja.
Tak jauh dari lokasi tersebut, berdiri sejumlah bangunan vila mewah yang dibangun salah seorang pengusaha asal Kota Solo.
Menempati eks bangunan joglo yang diratakan. Sayangnya, bangunan-bangunan vila tersebut juga mangkrak. Dibiarkan terbengkalai dan menambah kesan angker di kawasan Pesanggrahan Mangkunegaran.
Anjani, 41, warga Dusun Keprabon mengaku, deretan vila mewah tersebut dibangun sekira 2000-an.
Namun saat proses pembangunan, pekerja sering menemui hal-hal yang tidak wajar. Alhasil bangunannya dibiarkan mangkrak sampai sekarang.
“Orang kampung sini percaya kawasan itu wingit (angker). Cerita yang saya dengar, dulu pekerja bangunan vila sering mengalami kecelakaan. Pernah ada juga yang jatuh sakit setelah pulang ke rumah sampai meninggal,” ungkap Anjani.
Dari cerita para ahli spiritual, lanjut Anjani, kompleks Pesanggrahan Mangkunegaran memang angker. Ambil contoh sebuah batu besar di sana yang tak boleh dipindahkan. Jika nekat akan membawa malapetaka.
“Kalau tidak salah namanya batu Gilang. Pernah ada cerita batu itu dipindah pekerja bangunan. Tapi yang memindahkan kemudian meninggal dunia. Ada juga cerita pekerja yang tidur di bangunan vila, melihat penampakan noni Belanda jalan-jalan,” beber Anjarni. (rud/fer)
Editor : Tri Wahyu Cahyono