Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

430 Hektar Sawah di Klaten Terdampak El Nino

Angga Purenda • Minggu, 19 November 2023 | 19:04 WIB

Kondisi lahan persawahan di Desa Tlingsing, Kecamatan Cawas yang mengering akibat kesulitan mendapatkan air.
Kondisi lahan persawahan di Desa Tlingsing, Kecamatan Cawas yang mengering akibat kesulitan mendapatkan air.

RADARKLATEN.COM - Kemarau panjang akibat fenomena El Nino membuat lahan pertanian di Kabupaten Klaten kesulitan mendapatkan air untuk pengairan.

Mengingat sumber air yang selama ini diandalkan juga mengalami penyusutan hingga mengering. Bahkan kondisi ini membuat petani tidak bisa menanam tanaman padi di musim tanam kali ini.

Berdasarkan data dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Klaten terdapat 430 hektar sawah terdampak El Nino. Tersebar di tiga kecamatan yakni Cawas seluas 356 hektar, Trucuk 40 hektar dan Juwiring 34 hektar.

Baca Juga: Petani di Bayat Diusahakan Dapat Pengairan dari Rowo Jombor

Khusus di Kecamatan Cawas sendiri dari total 356 hektar, terdapat 110 hektar sawah diantaranya yang terdampak El Nino berada di Desa Tlingsing. Hal itu dikarenakan tidak ada sumber irigasi sebagai dampak kemarau panjang.

Hamparan sawah di Desa Tlingsing menganggur dengan kondisi mengering. Memang di sisi timurnya terdapat saluran irigasi Colo Barat dari Dam Colo di Sukoharjo yang selama ini sebagai sumber irigasinya. Tetapi kondisi saluran itu juga mengering.

Ketua Kelompok Tani Unggul Rejeki Desa Tlingsing, Sumardi mengatakan total luas sawah para petani yang tergabung di kelompoknya sekira 40 hektar. Petani pemilik puluhan hektar sawah itu selama beberapa bulan terakhir libur menanam.

Baca Juga: Warga Klaten Sambat Kehilangan Saluran Air Sawah hingga Jalan Lingkar Desa Gara-gara Proyek Tol Solo Jogja

“Sawah di wilayah lain pada musim tanam (MT) III ini juga tidak ditanami. Soalnya aliran air dari Waduk Gajak Mungkur (WGM) ditutup sementara sejak Oktober. Ini tidak ditanami baru kali ini saja. Tapi waktu MT II kemarin masih bisa panen,” ucap Sumardi yang juga Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Dadi Makmur, Minggu (19/11).

Lebih lanjut, Sumardi menjelaskan, apabila dipaksakan untuk menanam padi, dikhawatirkan akan gagal panen.

Dikarenakan tidak ada sumber air irigasi. Hal itu membuat petani memilih mengandalkan sebagian hasil panen pada MT sebelumnya untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.

Alhamdulillah tanam yang kemarin bisa ditimbun untuk persiapan tidak tanam padi pada MT III ini. Ada juga petani yang banting setir bekerja sebagai buruh harian lepas seperti tukang bangunan. Itu agar tetap bisa mendapatkan penghasilan, memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ucapnya.

Baca Juga: Waduk Surut, 11 Ribu Hektare Sawah di Boyolali Terancam Puso

Sumber irigasi menjadi salah satu kendala para petani di Desa Tlingsing untuk bercocok tanam pada MT III kali ini. Dirinya pun berharap pemerintah bisa membantu mereka dalam mengatasi persoalan irigasi.

Sementara itu, Bupati Klaten Sri Mulyani membenarkan, 430 hektar sawah yang terdampak El Nino tersebut dikarenkan kesulitan mendapatkan air untuk pengairan.

“Dikarenakan El Nino ini, banyak lahan pertanian di Klaten yang mengalami kekeringan atau kekurangan air. Baru kali ini tidak bisa tanam karena kesulitan air,” ucap Mulyani.

Lebih lanjut, Mulyani menjelaskan, bahwa Klaten juga mendukung program gerakan nasional penanganan dampak El Nino yang diluncurkan Kementerian Pertanian (Kementan).

Dari gerakan tersebut ditargetkan seluas 5.247 hektar sawah di Klaten ditanami padi. Hingga 16 November untuk luas tanam dari gerakan tersebut seluas 1.799 hektar yang tersebar di 18 kecamatan.(ren)

Editor : Damianus Bram
#pengairan #kemarau panjang #kekeringan #lahan pertanian #el nino