Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Merawat Cabai Ceri dan Cabai Pelangi, Imut dan Warna-warni

Administrator • Kamis, 22 Desember 2022 | 22:49 WIB
Photo
Photo










CABAI hias atau ornamental pepper tak hanya menarik pembudi daya tanaman, tetapi juga penghobi tanaman hias. Salah satunya, Sherly Gunawan. Ibu rumah tangga itu tadinya hanya mengoleksi anggrek dan tanaman sejenis aglaonema. ’’Saya punya cabai ceri sama cabai pelangi itu baru Oktober kemarin. Pertama lihat bentuknya lucu gitu, kan tahunya cabai rawit yang panjang-panjang, ini kok ada yang bunder-bunder imut,’’ ungkapnya.

Kebun kecil di pekarangan rumahnya kini sudah berjejer tiga pot tanaman cabai. Ada cabai ceri, cabai pelangi, dan cabai rawit. Buahnya tumbuh cukup lebat dan segar. Sebetulnya sudah saatnya panen. Namun, Sherly tidak sampai hati memetiknya. Dia biarkan buahnya keriput dan jatuh dengan sendirinya. Harapannya, buah yang berjatuhan itu akan menyemai kembali. ’’Penasaran sebenarnya, tapi sayang mau dipetik itu. Nggak tega, terlalu gemas. Kata teman saya sih lebih pedas, dipegang aja kerasa pedasnya,’’ ujarnya.

Dua cabai hias itu masih dalam satu spesies yang sama, yakni Capsicum annuum, dan dapat dikonsumsi. Cabai ceri atau pimiento memiliki bentuk bulat menyerupai hati dengan panjang 7–10 cm dengan lebar 5–7 cm.

Bentuk dari cabai pelangi tak kalah imut. Dengan buah yang sedikit lebih panjang. Secara bertahap, warnanya akan berubah-ubah menyesuaikan tingkat kematangan buah. Mulai ungu, kuning, oranye, hingga merah. ’’Merah itu udah terakhir, nggak bisa berubah lagi. Karena mereka tumbuhnya nggak bareng, jadi ada yang masih warna ungu, ada merah, jadi warna-warni kayak pelangi,’’ imbuh Sherl

Perawatan tanaman cabai hias pun terbilang cukup mudah. Tidak ada media tanam khusus. Yang penting tanahnya gembur. Sherly biasa menyiraminya satu sampai dua kali sehari agar tidak kering. Sebab, pot diletakkan di luar ruangan yang langsung terkena sinar matahari. Saat menyiramnya pun tidak bisa sembarangan. ’’Cukup dengan semprotan air, disemprot medianya aja sama daunnya. Jangan pakai slang, ya,’’ lanjutnya.

Dia juga rutin menyemprotkan pestisida dua minggu sekali. Jika jarang diberi pestisida, tanaman cabai akan rawan terserang kutu putih. Daunnya pun akan dimakan ulat dan tungau. ’’Perlu juga dikasih pupuk MPK, itu biasanya 5–10 butir untuk satu pot, sama vitamin B1,’’ tambah Sherly.

Jika ada sisa cangkang telur dan kulit bawang merah, Sherly akan menaruhnya di media tanam. Cangkang telur mengandung kalsium, sedangkan kandungan auksin pada kulit bawang merah akan menyuburkan tanaman. ’’Saya campur sama medianya, diaduk-aduk gitu sekalian menggemburkan tanahnya biar tidak padat,” ujar Sher

Begitu ada daun yang bolong, dia akan langsung memangkasnya agar tidak menular ke daun yang sehat. Untuk mendapatkan tanaman yang rimbun, Sherly rajin memangkas pucuk daun. Dengan begitu, akan tumbuh cabang-cabang

Semua rutinitas itu dilakukan dengan senang hati selepas menyelesaikan pekerjaan rumah. Sejak kecil, dia memang sudah gemar berkebun. Sherly sangat menyayangkan saat mengetahui satu tanaman cabai cerinya tiba-tiba layu. Buahnya masih merah segar, tetapi batangnya sudah menghitam. ’’Saya baru tahu kemarin, nggak tahu kenapa, ya. Sepertinya sudah tidak bisa hidup lagi, tapi semoga ada keajaiban,’’ tandasnya.






Editor : Administrator
#perawatan cabai #cabai