RADARSOLO.COM - Ada berbagai macam definisi dari orang beruntung, sesuai dengan pandangan dan kondisi masing-masing individu.
Ada yang beranggapan bahwa orang beruntung adalah orang yang bisnisnya sukses, kaya raya bergelimang harta.
Ada yang menilai orang beruntung ketika punya keluarga lengkap dan rukun, dan masih banyak lagi.
Nah, bagi umat muslim ada makna orang beruntung, sebagaimana yang tertuang dalam Alquran.
"Di dalam Alquran, beruntung itu dengan bentuk kata kerja. Kata kerjanya aflaha yang berarti beruntung. Itu disebut di dalam Alquran sebanyak empat kali," ungkap Pengasuh Pesantren An-Nur, Lasem Rembang KH Abdul Qoyyum Manshur, dilansir dari nu online.
Kiai yang akrab disapa Gus Qoyyum itu menyebut, ada tiga kelompok yang masuh kategori orang beruntung
dalam Alquran.
1. Orang-orang khusyuk dalam sholat
Kelompok pertama orang beruntung adalah yang bisa khusyuk menjalankan sholat.
Hal ini sebagaimana dalam beberapa ayat di awal Surat Al-Mu'minun.
"Orang yang beruntung itu adalah orang yang sholatnya khusyuk. Kira-kira panjenengan itu berbuka dulu atau sholat Maghrib dulu, khusyuk mana? Makanya Islam mensunahkan berbuka dulu, tapi jangan lama-lama. Sebab, sholat Maghrib itu batasnya sampai mega yang berwarna merah itu hilang," jelas Gus Qoyyum.
Mengelola hati, adalah kunci agar umat muslim bisa khusyuk saat menjalankan sholat.
Dikatakan Gus Qoyyum, semua manusia yang hidup pasti memiliki problem atau masalah.
"Diperlukan pengelolaan hati yang baik, karena kalau kita hidup tanpa problem, kayaknya kok tidak bisa ya?" kata dia.
"Selalu ada masalah karena hidup itu dinamis. Cuma mengelola hati dengan baik itu memang tidak mudah," tambah dia.
Lantas, bagaimana cara mengelola hati agar bisa khusyuk saat mendirikan sholat?
Caranya antara lain dengan berzikir dan tidur yang cukup.
Dengan mengalokasikan waktu untuk tidur, kata dia, maka prang tidak akan banyak berpikir hal macam-macam.
"Daripada kita tidak tidur tapi ngerasani (membicarakan) orang, mending dibuat tidur," kata Gus Qoyyum.
2. Orang yang membersihkan hati
Kelompok kedua orang beruntung dalam Alquran adalah orang yang mampu membersihkan hati.
Gus Qoyyum pun mengutip ayat 9 Surat Asy-Syams.
Diakui dia, tidak mudah bagi seseorang untuk membersihkan hati. Bahkan orang yang paling alim pun sulit untuk menjaga hatinya tetap bersih.
Untuk itu diperlukan pengendalian diri.
"Contohnya, jangan memuji ulama di depan ulama, karena untuk menjaga kebersihan hati ulama. Jangan memuji kiai lain di depan seorang kiai, iya kalau beliau berkenan, kalau tidak berkenan?" tuturnya.
3. Orang bersih lahir batin
Kelompok orang beruntung ketiga adalah orang yang bersih lahir dan batinnya.
"Sungguh beruntung orang yang bersih lahir-batinnya," ungkap Gus Qoyyum.
Hari Ini Lebih Baik dari Kemarin
Seiring situasi dan kondisi, manusia mengalami perubahan diri.
Gus Qoyyum mengatakan, Nabi Muhammad berharap agar manusia mengalami perubahan dalam diri ke arah lebih baik.
"Hari esok lebih baik daripada hari ini. Itu harapan Nabi Muhammad. Itulah menjadi tolok ukur manusia, beruntung atau tidak," papar dia. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria