RADARSOLO.COM - InJourney Destination Management (IDM) bersiap menyambut lonjakan pemudik dan wisatawan pada masa libur Lebaran 2026.
Kali ini mengusung tema Bersama Ciptakan Ramadan Penuh Makna.
Kawasan Taman Wisata Candi Prambanan yang berada di perbatasan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah diprediksi tetap menjadi magnet utama bagi wisatawan domestik.
Direktur Komersial InJourney Destination Management (IDM) Gistang Richard Panutur mengungkapkan, total kunjungan wisatawan ke Candi Prambanan selama 10 hari masa libur Lebaran diperkirakan mencapai 127.000-130.000 wisatawan.
Angka tersebut menunjukkan tren positif dengan kenaikan sekitar 3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Berdasarkan data statistik tahun-tahun sebelumnya, puncak kepadatan pengunjung di Candi Prambanan diprediksi terjadi pada H+3 dan H+4 Lebaran.
Begitu juga pada akhir pekan di antara masa libur Lebaran tersebut, Candi Prambanan bakal dipadati wisatawan domestik.
Pada hari puncak, jumlah pengunjung diperkirakan menembus angka 20.000 orang per hari.
Gistang optimis kunjungan tahun ini akan tetap tinggi meskipun ada prediksi penurunan wisatawan secara umum.
Optimisme ini didukung oleh dibukanya akses tol fungsional Prambanan-Purwomartani dengan Gerbang Tol (GT) Purwomartani, Kalasan.
Termasuk exit Tol Prambanan, Klaten yang menjadi titik tumpuan keluar para pemudik dari berbagai kota.
"Kita punya titik exit tol yang dekat. Nanti fungsional tol juga dibuka di Kalasan dan Prambanan. Harapannya, orang dari Jakarta yang turun di sana atau yang mau balik ke Jakarta justru akan berkumpul dan mampir ke Prambanan," ujar Gistang saat memberikan keterangan di Candi Prambanan, Klaten, Kamis (12/3/2026).
Terkait harga tiket, IDM memastikan tidak ada kenaikan harga.
Tiket masuk bagi Wisatawan Nusantara (Wisnus) tetap dibanderol seharga Rp 50.000 untuk hari biasa (weekday) dan Rp 65.000 untuk akhir pekan (weekend).
Dalam kesempatan yang sama, Senior Vice President Corporate Secretary InJourney Yudhistira Setiawan menjelaskan, pergerakan pemudik diprediksi mulai terjadi lebih awal, yakni sejak Jumat, 13 Maret 2026.
Hal ini dipicu oleh tren Work From Anywhere (WFA) pada tanggal 16-17 Maret 2026.
“Puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada 17-18 Maret, sedangkan puncak arus balik diprediksi pada 28, 29, dan 30 Maret," jelas Yudhistira.
Sebagai pengelola Candi Prambanan, InJourney telah memastikan kesiapannya dalam menyambut para wisatawan yang datang.
Terlebih lagi, candi bercorak Hindu itu diarahkan menjadi Living Cultural Destination.
Sebuah ruang budaya yang hidup melalui festival dan seni, seperti Prambanan Jazz yang digelar setiap tahunnya.
"Kami ingin memberikan makna dalam arus mudik tahun ini, sehingga wisatawan merasakan pengalaman yang bermakna melalui layanan kami,” ujarnya.
Menanggapi situasi geopolitik global, seperti ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, Yudhistira menyatakan bahwa pihaknya tetap waspada meski saat ini fokus utama dialihkan ke pasar domestik.
"Pengaruh (global) mestinya ada, tapi kami belum bisa menghitung detail dampaknya. Fokus kami sekarang adalah wisatawan domestik, sesuai marwah InJourney untuk meningkatkan kunjungan ke destinasi yang kami kelola. Kami tetap menghadirkan layanan dan aktivitas terbaik untuk kepentingan domestik terlebih dahulu," ujarnya.(ren)
Editor : Tri wahyu Cahyono