
Oleh: Hanifiya Samha Wardhani*)
RADARSOLO.COM - Pagi itu, seorang perempuan paro baya datang ke Puskesmas dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
Ia bukan datang karena dirinya mengalami demam atau batuk berkepanjangan.
Ia datang karena suaminya, yang telah dinyatakan menderita tuberkulosis (TB), mulai kehilangan motivasi untuk melanjutkan pengobatan.
Baca Juga: Menjadi Guru Yang Selalu Dirindukan Murid
"Sekarang suami saya mulai jarang minum obat. Katanya sudah merasa sehat. Tetapi dia juga takut jika orang lain mengetahui penyakitnya," ungkapnya kepada dokter.
Cerita tersebut merupakan gambaran nyata dari tantangan pengendalian TB di masyarakat.
Penyakit ini tidak hanya menyerang organ tubuh, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis, hubungan sosial, dan kehidupan keluarga pasien.
Selama ini, TB sering dipahami hanya sebagai persoalan medis.
Ketika seseorang didiagnosis TB, perhatian biasanya terfokus pada pemeriksaan, pemberian obat, dan pemantauan klinis.
Padahal, perjalanan pasien menuju kesembuhan berlangsung jauh lebih kompleks.




