Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ketika Titik Api Terlihat, Pencegahan Jangan Terlambat

fery ardi susanto
Penulis: fery ardi susanto❯
Prof. Dr. Kuswaji Dwi Priyono, M.Si., Dosen Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). (Dok. Pribadi)
Prof. Dr. Kuswaji Dwi Priyono, M.Si., Dosen Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). (Dok. Pribadi)


Advertisement

Oleh: Prof. Dr. Kuswaji Dwi Priyono, M.Si., Dosen Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)

SETIAP memasuki musim kemarau, Indonesia kembali dihadapkan pada kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Advertisement

Titik panas terdeteksi, petugas dikerahkan, pemadaman dilakukan, dan berbagai imbauan disampaikan. Siklus itu seolah menjadi ritual tahunan. 

Pertanyaannya: mengapa karhutla terus berulang? Apakah semata-mata karena kemarau semakin kering, atau persoalannya justru terletak pada kemampuan mencegah agar api tidak berkembang menjadi bencana?

Pertanyaan ini relevan ketika sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya Kalimantan menghadapi risiko karhutla pada musim kemarau 2026.

Advertisement

Baca Juga: Kedaulatan Digital dan Toleransi

BMKG memperingatkan puncak kemarau berlangsung Juli-September, dengan Agustus sebagai salah satu periode penting. Kondisi diperberat fenomen El Nino yang mengurangi curah hujan dan meningkatkan kekeringan.

Namun, kemarau bukanlah api. Kemarau memang membuat vegetasi, semak, serasah, dan bahan organik menjadi kering sehingga mudah terbakar. Angin juga dapat mempercepat penyebaran api.

Tetapi lahan kering tidak akan terbakar tanpa sumber penyalaan.

Karena itu, karhutla tidak tepat dipahami hanya sebagai fenomena alam. Ia merupakan hasil interaksi antara kondisi iklim, karakteristik lahan, penggunaan lahan, aktivitas manusia, dan tata kelola lingkungan. 

Persoalan semakin kompleks pada ekosistem gambut. Gambut yang basah memiliki perlindungan alami terhadap kebakaran. Sebaliknya, ketika tata air berubah dan gambut mengering, kerentanannya meningkat.

Advertisement

Artikel Terkait

Bawa Boneka Orangutan, Busana Dayak Wawali Solo saat Pawai Jadi Pesan Keras soal Karhutla Kalimantan

Bawa Boneka Orangutan, Busana Dayak Wawali Solo saat Pawai Jadi Pesan Keras soal Karhutla Kalimantan

Busana adat Dayak yang dikenakan Wawali Solo Astrid Widayani dalam Pawai Pembangunan 2026 menjadi simbol keprihatinan terhadap karhutla dan ancaman terhadap satwa Kalimantan.

Karhutla Kembali Kepung Kalimantan, Mengapa Kebakaran Hutan Terus Berulang?

Karhutla Kembali Kepung Kalimantan, Mengapa Kebakaran Hutan Terus Berulang?

Sebanyak 1.487 titik panas mengepung Kalimantan akibat karhutla. Meski siaga dan patroli disiapkan, pendekatan reaktif dinilai belum efektif mencegah kebakaran, terutama di lahan gambut.

Karhutla Kalimantan Mengganas, Ini Titik Wilayah yang Diselimuti Kabut Asap

Karhutla Kalimantan Mengganas, Ini Titik Wilayah yang Diselimuti Kabut Asap

Karhutla masih melanda sejumlah wilayah Kalimantan. Titik kebakaran tersebar di Kalimantan Tengah, Selatan hingga Timur, memicu kabut asap yang mengganggu sekolah, penerbangan, jarak pandang, dan kualitas udara.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer