
Oleh: Dedi Ary Prasetya, Dosen Program Studi Teknik Elektro UMS
PROSES belajar pada hakikatnya menyerupai aliran air alami yang meliuk menyusuri bebatuan, membasahi tanah di sekitarnya, menumbuhkan ekosistem baru, dan membawa bermacam mineral dari fase kebingungan, sebelum akhirnya menemukan muara pemahaman yang sejati.
Sayangnya, di era modern yang mengagungkan efisiensi, aliran seperti ini dipaksa masuk ke saluran beton yang serba terukur dan cepat, sehingga air memang sampai di tujuan dengan lebih kilat, namun meninggalkan lingkungan di sekitarnya kering dan gersang.
Fenomena ini menandai memudarnya keintiman belajar, yaitu sebuah keterikatan emosional dan intelektual yang mendalam antara pembelajar, ilmu yang sedang digali, serta proses penemuannya itu sendiri, yang kini perlahan tergantikan oleh hubungan mekanis dan serba transaksional.
Keintiman yang kian tergerus ini membuat aktivitas menyerap pengetahuan tak lagi mampu mengubah cara manusia memandang dunia, melainkan sekadar proses mengunduh informasi ke dalam memori jangka pendek demi memburu angka dan selembar ijazah.
Ketika proses bergumul di dalam labirin pemikiran dianggap ketidakefisienan yang sia-sia, manusia kehilangan keberanian untuk diam dan merenung.
Padahal di dalam jeda ketenangan itulah kebijaksanaan sejati dibentuk.
Keadaan ini diperparah dorongan ketergesa-gesaan yang menginvasi jiwa manusia modern, di mana semua hal harus diselesaikan secara instan tanpa memberi kesempatan bagi ilmu untuk mengendap dan memperhalus perasaan pembelajar.
Mitos Kecepatan AI
Pengalaman nyata di ruang kelas sering menjadi saksi betapa dalamnya jurang pemisah antara transfer ilmu pengetahuan dan keintiman belajar.




