Mengetuk Langit, Merawat Bumi: Ikhtiar Menghadapi Kemarau Panjang dan Anomali Iklim


Oleh: Drs. Soleh Amini, M.Si., Psikolog dan Dosen Fakultas Psikologi UMS
ADA masa ketika langit seolah kehilangan kemurahannya. Awan datang tanpa hujan.
Matahari menyengat, tanah retak, sungai menyusut, sumur mendangkal, tanaman menguning, dan para petani memandang langit dengan harapan yang semakin panjang.
Manusia pun bertanya: kapan hujan akan datang?
Kemarau merupakan bagian dari siklus musim di Indonesia.
Namun, ketika berlangsung jauh lebih panjang, suhu meningkat ekstrem, dan curah hujan jauh di bawah normal, kita berhadapan dengan anomali iklim dan risiko kekeringan ekstrem.
Perubahan tersebut dipengaruhi faktor alamiah maupun aktivitas manusia.
El Niño dapat mengurangi curah hujan di sebagian wilayah Indonesia, sementara perubahan iklim global memperbesar peluang suhu ekstrem dan perubahan pola musim.
Deforestasi, perubahan tata guna lahan, berkurangnya daerah resapan, kerusakan ekosistem, dan penggunaan sumber daya alam yang tidak terkendali turut meningkatkan kerentanan masyarakat.
Sebab itu, kemarau panjang bukan sekadar persoalan cuaca. Ia dapat berkembang menjadi persoalan sosial, ekonomi, kesehatan, pangan, bahkan kemanusiaan.



