
OLEH: Aris Rakhmadi, S.T., M.Eng., Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)
RADARSOLO.COM - Penyelenggaraan ibadah haji semakin bersentuhan dengan teknologi digital. Mulai dari pendaftaran, pembayaran, hingga pengelolaan dokumen perjalanan.
Salah satu inovasinya yakni Saudi Visa Bio, aplikasi yang mendukung perekaman data biometrik melalui telepon pintar untuk keperluan pengajuan visa pada layanan yang tersedia.
Teknologi ini menjanjikan proses yang praktis dan efisien.
Namun, ada pertanyaan penting di balik kemudahan tersebut: apakah calon jamaah sudah memiliki kemampuan digital yang memadai untuk menggunakannya?
Baca Juga: Edukasi dan Literasi Finansial Perbankan
Tanpa kesiapan pengguna, inovasi justru dapat menambah beban bagi jamaah.
Bagi masyarakat yang terbiasa menggunakan aplikasi, mengikuti petunjuk verifikasi identitas, memotret wajah, atau merekam biometrik mungkin terasa sederhana.
Situasinya berbeda bagi sebagian calon jamaah lanjut usia, maupun mereka yang jarang berinteraksi dengan layanan digital.
Kendala perangkat, jaringan internet, bahasa, hingga kegagalan perekaman dapat menjadi hambatan. Bayangkan jamaah yang berulang kali gagal mengikuti satu tahapan.
Masalahnya bukan hanya kemauan untuk belajar, tetapi juga desain layanan dan dukungan bagi pengguna.




