
RADARSOLO.COM – Sekarang, membawa beberapa lembar uang kertas di dompet terasa biasa saja. Bahkan, banyak orang mungkin tidak pernah memikirkan mengapa selembar kertas bisa memiliki nilai dan digunakan untuk membeli makanan, membayar transportasi, hingga berbelanja.
Namun, uang kertas ternyata tidak langsung diciptakan sebagai uang.
Jauh sebelum kartu debit dan pembayaran digital digunakan, masyarakat Tiongkok justru menghadapi persoalan sederhana: koin logam terlalu berat untuk dibawa.
Baca Juga: Kenapa Nama Orang Barat Sering Punya “Kode” Keluarga?
Pada masa ketika perdagangan semakin berkembang, transaksi dalam jumlah besar berarti membawa lebih banyak koin. Kondisi tersebut tentu merepotkan, terutama bagi pedagang yang harus melakukan perjalanan jauh. Dari persoalan inilah muncul gagasan menggunakan selembar kertas sebagai bukti kepemilikan uang.
Cikal bakalnya dapat ditelusuri hingga masa Dinasti Tang. Saat itu, pedagang mulai menggunakan dokumen atau surat sebagai bukti bahwa mereka telah menitipkan sejumlah uang kepada pihak tertentu. Dengan membawa dokumen tersebut, mereka tidak perlu terus-menerus membawa seluruh koin dalam perjalanan.
Jadi, pada awalnya kertas tersebut bukan uang dalam pengertian modern, melainkan semacam bukti titipan.
Baca Juga: HopeTok Muncul di Tengah Tren Doomscrolling, Kenapa Gen Z Mulai Memilih Konten yang Bikin Tenang?
Perkembangan penting kemudian terjadi pada masa Dinasti Song, sekitar abad ke-10 hingga ke-11. Aktivitas perdagangan yang semakin ramai membuat penggunaan surat atau bukti pembayaran semacam itu semakin berkembang.
Salah satu bentuk yang kemudian terkenal adalah jiaozi.
Jiaozi pada awalnya berkaitan dengan surat atau sertifikat yang dapat digunakan dalam transaksi. Pemerintah kemudian melihat manfaat sistem tersebut dan mulai mengatur penerbitan uang kertas secara lebih resmi.
Di sinilah sesuatu yang awalnya hanya berupa bukti titipan perlahan berubah menjadi alat pembayaran.




