PLDPI Dihapus, Orang Tua ABK Cemas Tidak Mendapat Layani Terapi Gratis


RADARSOLO.COM — Kekhawatiran menghantui orang tua anak berkebutuhan khusus (ABK) menyusul penghapusan Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusif (PLDPI) Kota Solo.
Layanan terapi yang selama ini gratis dan menjadi tumpuan keluarga dikhawatirkan semakin sulit diakses jika nantinya dialihkan ke rumah sakit.
Salah seorang wali murid, Rini Setyaningsih, warga Munggung, Banjarsari, Solo mengaku khawatir anaknya tidak lagi mendapatkan layanan terapi di PLDPI.
Selama ini, anaknya rutin menjalani terapi okupasi, terapi wicara, dan terapi perilaku.
"Waduh, kalau dibubarkan eman-eman banget. Soalnya kalau terapi di luar mahal. Sedangkan anak saya harus mengikuti tiga terapi sekaligus, okupasi, wicara sama perilaku," keluh Rini saat ditemui Jawa Pos Radar Solo seusai mendapat layanan di PLDPI, Selasa kemarin (15/9).
Menurut Rini, biaya terapi di rumah sakit juga cukup memberatkan.
Untuk rumah sakit swasta, biaya terapi bisa lebih dari Rp100 ribu setiap kali kunjungan.
"Kalau di rumah sakit daerah agak terjangkau, tapi kalau rumah sakit swasta mahal banget, hampir lebih Rp100 ribu sekali terapi. Di luar rumah sakit daerah ya lumayan menguras kantong," ungkapnya.
Persoalan lainnya adalah ketersediaan jadwal.
Rini mengatakan layanan terapi di rumah sakit daerah kerap penuh sehingga orang tua kesulitan mendapatkan jadwal.


