Sampo kreasi mahasiswa ini dinamai Selen Bar. Berbahan dasar daun seledri dan serai wangi. Dibuat oleh Kalimaya Qolbi Sani, Nur Sayekti, dan Sabela Sanata Ramadhani. Ketiganya meramu bahan-bahan tersebut, menjadi shampo organik yang kaya vitamin untuk rambut.
“Sampo ini khusus untuk mengatasi rambut rontok dan ketombe. Karena kandungan yang terdapat pada seledri dan serai wangi,” kata Kalimaya Qolbi.
Qolbi menambahkan, daun serai wangi mengandung senyawa aktif citronellal, citronellol, dan geraniol yang cocok untuk membasmi ketombe. Kemudian seledri mengandung senyawa aktif limonene, vitamin A, dan C, yang mampu mencegah masalah kerontokan rambut.
Proses pembuatan Selen Bar, berupa campuran ekstrak seledri, minyak zaitun, minyak kelapa, ekstrak serai wangi, dan aquades. Sebelum dicampur, bahan-bahan tersebut ditimbang sesuai takarannya.
“Tahap berikutnya larutkan soda api dilarutkan ke minyak zaitun dan minyak kelapa sawit dalam satu wadah. Kemudian ditambahkan ekstrak seledri dan serai wangi, lalu aduk dengan magnetic stirrer hingga mengental,” imbuhnya.
Setelah semua bahan tercampur, kemudian dituang ke dalam cetakan dan didinginkan. Tahap pendinginan ini dinamakan cold process. Membutuhkan waktu sekira 72 jam, hingga sampo mengeras.
“Produk ini masih dikembangkan lagi. Akan kami tambah mild surfaktan seperti CAPB dan SCI, agar rambut terasa lebih lembut. Selain itu perlu pengujian terkait daya hambat jamur dan analisis growth rate rambut,” ungkapnya.
Selain mengurangi masalah rambut rontok, Selen Bar tanoa kandungan bahan pengawet sintetis yang berpotensi menyebabkan iritasi, gatal, ataupun tidak nyaman. Sehingga sampo ini cocok bagi pemilik kulit kepala sensitif.
“Kandungan saponin dan flavonoid pada ekstrak seledri, dapat menstimulasi dan mengaktifkan sirkulasi darah dari folikel rambut. Sehingga mampu mencegah kerontokan rambut. Selain itu, kandungan geranial dan neral dari serai wangi, mampu melawan bakteri penyebab ketombe,” ujarnya.
Melalui inovasi ini Qolbi dkk timnya berhasil menyabet juara satu, perlombaan karya ilmiah di Jogjakarta, pada 16-18 Maret lalu. Padahal di awal lomba, mereka tidak mematok target muluk-muluk. Mengingat inovasi produk yang dihasilkan para pesaing cukup bagus.
“Waktu pengumuman juara, rasanya kaget dan tidak percaya. Kami bersyukur, karena bisa mengharumkan nama kampus dalam perlombaan bergengsi dan sangat kompetitif ini,” katanya. (ian/fer/dam) Editor : Damianus Bram