RADARSOLO.COM – Ada berbagai macam program dan fasilitas yang disediakan satuan pendidikan, untuk menunjang budaya literasi. Salah satunya pojok baca. Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Surakarta pun telah menggaungkan program ini, guna memacu budaya membaca siswa di sekolah.
Saat ini disdik tengah mengusulkan beberapa kegiatan, untuk menunjang peningkatan minat membaca siswa. Apalagi Kurikulum Merdeka yang saat ini diterapkan, juga fokus ke arah itu. Bahkan, disdik memberikan dukungan penuh bagi sekolah sekolah yang memiliki terobosan baru untuk meningkatkan budaya literasi.
“Kami berencana agar setiap sekolah wajib memiliki pojok baca dan lainnya. Program ini mungkin di beberapa sekolah sudah diterapkan. Tetapi agar hasilnya lebih maksimal, bisa ditegaskan lagi lewat program literasi tertentu,” papar Sekretaris Disdik Kota Surakarta Abdul Haris Alamsah, kemarin (10/9).
Menurut Haris, gerakan literasi secara umum bertujuan menumbuhkan budaya literasi dalam ekosistem pendidikan mapun keluarga. Dalam rangka pembelajaran sepanjang hayat, sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup. Sehingga pada akhirnya gerakan literasi ini akan menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang inspiratif dan unggulan.
“Saat ini sudah banyak sekolah menggunakan Kurikulum Merdeka. Maka disdik juga akan membuat kegiatan-kegiatan, yang mengarah pada peningkatan literasi dan numerasi. Supaya selaras dengan Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM),” imbuhnya.
Pojok baca sekolah atau pojok literasi, memiliki beberapa manfaat bagi siswa. Di antaranya merangsang siswa untuk gemar membaca dan berdaya pikir baik. Juga kian mendekatkan buku pada siswa. Termasuk membantu perpustakaan sekolah dalam membudayakan rutinitas membaca.
Sementara itu, Kepala SDIT Nur Hidayah Surakarta Rahmat Hariyadi mengaku, berbagai program dan fasilitas di sekolah dapat dimanfaatkan siswa untuk meningkatkan literasi. Salah satunya menyediakan pojok baca dan perpustakaan yang lengkap. Selain itu, juga memberikan reward bagi siswa yang sering membaca dan meminjam buku di perpustakaan dan pojok baca.
“Prinsip Merdeka Belajar coba diterapkan di sekolah. Sehingga siswa bisa belajar mandiri. Sebenarnya literasi tidak hanya dari buku, tetapi juga menyesuaikan usia anak. Karena ada batasan penggunaan gadget, maka kami buat acara menyenangkan dengan media buku,” paparnya. (ian/fer)
Editor : Damianus Bram