Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Akademisi Dukung Pembatasan Screen Time Ke Pelajar Di Solo

Alfida Nurcholisah • Kamis, 15 Januari 2026 | 18:49 WIB

 

Ilustrasi anak-anak membaca buku di Perspus Keliling untuk mengurangi ketergantungan pada gawai.
Ilustrasi anak-anak membaca buku di Perspus Keliling untuk mengurangi ketergantungan pada gawai.

RADARSOLO.COM – Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Solo membatasi penggunaan gawai atau screen time pada anak, mendapat dukungan dari akademisi. Kepala Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Murfiah Dewi Wulandari menilai, kebijakan tersebut relevan dan penting untuk melindungi perkembangan anak, terutama pada usia dini.

Menurut Murfiah, durasi screen time tidak bisa disamakan antara anak usia dini, sekolah dasar (SD), hingga remaja. Semakin kecil usia anak, dampak negatif penggunaan gawai cenderung semakin besar jika tidak dibatasi dengan ketat.

“Berdasarkan panduan WHO, anak usia dini memang tidak disarankan terpapar gawai dalam durasi lama. Anak usia SD ke atas, screen time masih diperbolehkan, tetapi harus dijadwalkan dan dibatasi dengan jelas,” kata Murfiah.

Marfuah menegaskan, kemajuan teknologi tidak bisa dihindari. Kendati demikian, harus digunakan secara bijak. Pembatasan waktu penggunaan gawai menjadi kunci, agar anak tidak ketergantungan.

“Tidak bisa disamakan antara anak SD dan SMA. Semakin dewasa, anak memang membutuhkan teknologi untuk belajar. Tetapi pada usia SD, masih perlu aturan yang tegas terkait waktu memegang gawai,” imbuhnya.

Dari sisi perkembangan kognitif, Murfiah mengakui penggunaan gawai memiliki dampak positif. Seperti menambah kosakata dan wawasan termasuk dalam pembelajaran bahasa asing. Namun dari aspek psikologis dan sosial-emosional, penggunaan gawai berlebihan justru berpotensi menimbulkan masalah.

“Interaksi sosial anak akan berkurang jika terlalu sering bersentuhan dengan gawai. Kemampuan sosial-emosional dan kepekaan terhadap lingkungan bisa menurun,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti dampak penggunaan gawai pada pelajar dan mahasiswa. Meski teknologi mempermudah penyelesaian tugas, pendalaman materi dan kemampuan berpikir kritis sering kali melemah.

“Anak dan mahasiswa jadi lebih cepat mengerjakan tugas, tetapi kurang mendalami isinya. Ini menjadi tantangan bagi pendidik agar tidak hanya menugaskan presentasi, tetapi juga mendorong pertanyaan-pertanyaan kritis,” katanya.

Murfiah menekankan bahwa keberhasilan pembatasan screen time tidak lepas dari peran orang tua. Orang tua diharapkan memberi teladan, bukan sekadar aturan.

“Kalau anak diminta berhenti memegang HP, orang tua juga sebaiknya ikut berhenti dan mengajak anak bermain. Saat anak sudah lebih besar, ajak komunikasi dan diskusi tentang pertemanan maupun kendala di sekolah,” pungkasnya.

Ia berharap agenda Pemkot Solo terkait pembatasan screen time dapat diiringi dengan edukasi berkelanjutan kepada orang tua dan sekolah, sehingga kebijakan tersebut benar-benar berdampak positif bagi tumbuh kembang anak. (alf/fer)

Editor : fery ardi susanto
#pemkot solo batasi handphone pelajar #akademisi universitas muhammadiyah surakarta #akademisi ums #pemkot solo batasi gawai pelajar #program screen time pemkot solo