RADARSOLO.COM – Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta kembali menambah dua doktor baru pada Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI). Keduanya adalah Janarko dan Amir Mukminin yang berhasil mempertahankan disertasi dalam sidang terbuka ujian promosi doktor di Aula UNU Surakarta, Rabu (18/2/2026).
Sidang terbuka tersebut dipimpin langsung oleh Rektor UNU Surakarta Mufrod Teguh Mulyo yang juga selaku ketua sidang di hadapan tim penguji. Prosesi berlangsung khidmat, diawali pemaparan disertasi oleh masing-masing promovendus, dilanjutkan sesi tanya jawab serta masukan kritis dari para penguji.
Dalam pemaparannya, Janarko menyoroti berbagai tantangan pembentukan akhlak belajar siswa. Baik dari faktor internal maupun eksternal. Dia menilai internalisasi akhlakul karimah dan pembentukan karakter religius belum optimal, meskipun kurikulum Aqidah Akhlak telah dijalankan di sekolah. Selain itu, menurutnya masih terdapat kesenjangan integrasi antara teori klasik Islam dan pendidikan kontemporer.
Janarko sengaja menggunakan perspektif pemikiran Imam Al-Ghazali dan Ibnu Maskawaih karena objek penelitiannya berbasis pendidikan Islam di MAN 1 Sragen.
"Kedua tokoh tersebut menempatkan akhlak sebagai integrasi antara iman, hati, dan perilaku. Berbeda dengan teori Barat yang lebih menitikberatkan pada perkembangan moral rasional, teori Islam klasik justru menggabungkan dimensi spiritual dan rasional secara utuh," ujarnya.
Disertasi Janarko berjudul “Metode Pendidikan Aqidah Akhlak: Analisis Ibnu Maskawaih dan Imam Al-Ghazali dalam Membentuk Karakter Siswa MAN 1 Sragen pada Masa Pembelajaran 2024/2025.”
Sementara itu, promovendus Amir Mukminin memaparkan disertasi berjudul “Pengaruh Keteladanan, Kematangan Agama, Motivasi Belajar, dan Self Efficacy terhadap Pendidikan Karakter Mahasiswa Ma’had Al Jami’ah IAIN Ponorogo Tahun Ajaran 2024/2025.”
Dia mengungkapkan, mahasiswa Ma’had Al Jami’ah IAIN Ponorogo secara umum menunjukkan kematangan beragama yang baik, terutama dalam mengintegrasikan ajaran Islam dengan kehidupan sehari-hari, menjaga konsistensi moral, serta tetap adaptif terhadap perkembangan zaman.
Meski demikian, masih terdapat aspek yang perlu ditingkatkan, khususnya kemampuan diferensiasi atau membedakan ajaran agama secara lebih mendalam yang skornya relatif rendah.
Amir juga menegaskan bahwa sikap keteladanan pemimpin maupun pengajar ma’had memiliki peran penting dalam membentuk karakter mahasiswa.
"Secara empiris, self efficacy menjadi faktor tunggal paling efektif karena menumbuhkan keyakinan diri mahasiswa sebagai media krusial untuk mentransformasikan ajaran agama dan keteladanan menjadi karakter yang mandiri dan stabil," ungkapnya.
Sidang promosi doktor ditutup dengan penetapan kelulusan keduanya sebagai doktor baru di bidang Pendidikan Agama Islam. Gelar ini menambah kontribusi akademik UNU Surakarta dalam pengembangan keilmuan dan pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam. (alf/nik)
Editor : Niko auglandy