Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Guru Harus Terampil Computational Thinking

Alfida Nurcholisah • Rabu, 25 Februari 2026 - 07:05 WIB

TAK MUDAH: Peserta tengah memecahkan masalah dalam workshop Computational Thinking di Perpustakaan Masjid Raya Sheikh Zayed, Selasa (24/2/2026).
TAK MUDAH: Peserta tengah memecahkan masalah dalam workshop Computational Thinking di Perpustakaan Masjid Raya Sheikh Zayed, Selasa (24/2/2026).

RADARSOLO.COM - Computational thinking menjadi salah satu tema penting yang dibahas dalam pelatihan yang diselenggarakan di Perpustakaan Masjid Raya Sheikh Zayed Solo, Selasa (24/2/2026).

Puluhan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan TK tampak antusias mengikuti workshop tersebut.

Kegiatan ini dirancang untuk membekali pendidik dengan keterampilan berpikir logis, sistematis, dan kreatif yang dapat diterapkan dalam pembelajaran sehari-hari.

Direktur Masjid Raya Sheikh Zayed Munajat mengungkapkan, kemampuan computational thinking sendiri menjadi fondasi penting dalam perkembangan kecerdasan buatan (AI), coding, dan KKA.

"Pola pikir ini melatih anak untuk menyelesaikan masalah secara solutif, kreatif, dan efisien. Semakin baik kemampuan berpikir komputasional seseorang, maka semakin akurat dan presisi pula hasil karya berbasis teknologi yang dihasilkan," ujarnya.

Dalam workshop tersebut dijelaskan bahwa computational thinking mencakup empat komponen utama, yakni pengenalan pola (pattern recognition), penyusunan langkah sistematis (algoritma), pemecahan masalah menjadi bagian kecil (dekomposisi), serta pemilahan informasi penting (abstraksi).

"Keempat aspek ini dapat dikenalkan sejak usia dini melalui permainan, cerita, maupun aktivitas kolaboratif tanpa harus bergantung pada perangkat digital," ungkapnya.

Melalui pendekatan yang menyenangkan dan kontekstual, para guru diajak memahami bahwa ketika anak bermain, sesungguhnya proses berpikir mereka sedang bekerja.

Aktivitas permainan juga melatih kerja sama, komunikasi, serta kolaborasi antarpeserta didik.

Salah seorang peserta, Ukhti Nada Sabira yang juga berstatus guru TK Diponegoro mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari kegiatan tersebut.

Menurutnya, mengajar anak tidak sesederhana yang dibayangkan. Dibutuhkan perancangan kegiatan yang unik, menarik, dan efektif untuk melatih kecerdasan peserta didik.

“Dari kegiatan ini saya jadi tahu bahwa mendidik anak tidak melulu dengan perintah sesuai apa yang kita mau, tetapi bisa dilakukan dengan pendekatan emosional melalui permainan dan pembentukan pola,” ujarnya.

Dia menjelaskan, konsep computational thinking sendiri memiliki korelasi kuat dengan pembelajaran di sekolah, termasuk dalam penerapan dasar-dasar coding.

Di kelasnya, dia mengajarkan anak mengenal huruf hijaiyah melalui pola warna. Misalnya, huruf Alif dikenalkan dengan warna hijau, Ba dengan merah, dan Ta dengan kuning.

“Terbukti belum lama ini saya terapkan, mereka cepat sekali menangkap ilmunya. Anak-anak lebih mudah memahami karena dikaitkan dengan pola yang menyenangkan,” tambahnya.

Dua berharap, melalui pelatihan ini semakin banyak guru yang memiliki wawasan tentang computational thinking dan mampu menerapkannya dalam pembelajaran, sehingga anak-anak semakin tanggap dalam menghadapi perkembangan teknologi. (alf/nik)

 

 

Editor : Niko auglandy
#coding #ai #Masjid Raya Sheikh Zayed