RADARSOLO.COM - Dari stadion, tribun, hingga jalanan Kota Solo, chant “Satu Jiwa” sudah menjadi napas yang menyatukan Pasoepati dan Persis Solo. Lagu milik band indie The Working Class Symphony (TWCS) itu kini identik dengan Laskar Sambernyawa, seolah diciptakan khusus untuk mereka—padahal perjalanan lagu ini menjadi anthem klub tidak sesederhana itu.
Hampir semua kelompok suporter dunia punya chant kebanggaan. Liverpool memiliki “You’ll Never Walk Alone”, Juventus memutar lantang “Storia di un Grande Amore”, dan di Indonesia Aremania dikenal dengan seruan “Salam Satu Jiwa”.
Di Solo, Pasoepati akhirnya punya identitas musikal yang kuat lewat “Satu Jiwa”. Lagu itu pertama kali bergema di Stadion Manahan saat Persis menjamu UITM FC (Malaysia) pada 21 Desember 2013.
“Kami pilih ‘Satu Jiwa’ karena lagu ini paling mencerminkan kebersamaan,” ujar Andre Jaran, Menteri Kreativitas DPP Pasoepati kala itu saat diwawancarai Jawa Pos Radar Solo, 2013 silam.
Sejak saat itu, “Satu Jiwa” menjadi ritual: dinyanyikan sebelum laga dimulai, dan kembali diteriakkan setelah peluit akhir.
TWCS Justru Baru Tahu Belakangan
Meski lagunya sering dinyanyikan Pasoepati, TWCS—band punk rock asal Solo—justru baru mengetahui hal itu jauh setelahnya.
“Awalnya saya malah tidak tahu, karena Pasoepati tidak izin dulu. Tapi kami bangga. Lagu itu bikin Manahan tambah rame, dan kami jadi lebih dikenal,” tutur Zoel, vokalis TWCS saat dikonfirmasi, kala itu.
Banyak orang kemudian mulai mencari album TWCS, termasuk album berisi “Satu Jiwa”.
Asal-Usul TWCS: Lahir dari Obrolan di THR Sriwedari
TWCS sejatinya lahir dari evolusi band punk rock Solo, Underdog. Pada 2010, beberapa anggotanya berbincang santai di kawasan Taman Hiburan Rakyat (THR) Sriwedari, lalu sepakat membentuk band baru dengan identitas yang lebih kolektif—lahirlah The Working Class Symphony.
Nama mereka kemudian melambung saat “Satu Jiwa” menjadi lagu wajib Pasoepati.
Saat Timnas U-19 Ikut Menyanyikan “Satu Jiwa”
Ada kisah unik yang membuat lagu ini makin melegenda. Ketika Timnas U-19 era Evan Dimas berlaga melawan Pra PON di Stadion Manahan pada 10 Februari 2014, sekitar 30 ribu Pasoepati serempak menyanyikan “Satu Jiwa” sebelum pertandingan.
Pelatih Timnas U-19 kala itu, Indra Sjafri, ikut terbawa suasana.
Ia begitu terpukau, sampai berniat mencari albumnya. Namun Timnas keburu bertolak ke Semarang untuk menghadapi PSIS, sehingga ia meminta bantuan suporter lokal untuk mencarikan CD album TWCS.
TWCS sempat kehabisan stok CD.
“Awalnya anak Panser Biru yang minta, tapi kami bilang sudah habis. Yang tersisa cuma lima CD, itu pun ada di Jerman. Tapi setelah tahu yang minta itu Coach Indra, kami akhirnya carikan. Drummer kami rela memberikan CD pribadinya,” kenang Zoel.
Bagi TWCS, itu kebanggaan tersendiri—lagu mereka bukan hanya dinyanyikan suporter klub, tetapi juga menjadi penyemangat Timnas Indonesia.
Anthem yang Membentuk Identitas Baru Persis Solo
Banyak yang menilai Persis adalah salah satu klub pertama di Indonesia yang benar-benar memproklamasikan bahwa setiap tim harus punya anthem yang dinyanyikan sebelum dan sesudah pertandingan. “Satu Jiwa” menjadi penanda era baru atmosfer Manahan.
Chant ini bukan sekadar lagu.
Ia adalah perekat kebersamaan, suara persatuan, dan identitas baru Laskar Sambernyawa.
Dan sayangnya pada, Selasa, 17 Februari 2026, kabar duka muncul. Zoel dikabarkan tutup usia. raganya memang telah tiada, namun karya dan legecy-nya akan tetap abadi. Lagu Satu Jiwa buatannya akan tetap berkumandang di laga laga Persis Solo. Kapan pun dan di mana pun. (nik)
Berikut lirik ‘Satu Jiwa’ gubahan The Working Class Symphony yang menjadi anthem kebanggaan Persis Solo.
Disini semua berawal
Disini kita berbagi kesenangan
Berusaha tetap bersama
Walaupun jarak kadang terbentang memisahkan
Rayakanlah pertemuan ini
Slalu bersama apapun yg terjadi
Singkirkan semua yg mengganggumu
Kitakan tetap jadi satu
Roda hidup terus berputar
Dan takdirpun tak slalu sama...pahamilah
Namun hasrat tuk tetap bersama
Menjadi semangat yg membuat kita smakin kuat