Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

UMS Dorong Koherensi Kebijakan Nasional yang Melahirkan Inovasi Berbasis Ko-Kreasi

Syahaamah Fikria • Sabtu, 13 Desember 2025 | 04:51 WIB
Peluncuran enam prototipe inovasi sosial hasil Program Srawung Sains–Tera Saintek UMS.
Peluncuran enam prototipe inovasi sosial hasil Program Srawung Sains–Tera Saintek UMS.

RADARSOLO.COM - Pintu gerbang Rusunawa Blok 1 Begalon, Panularan, Kota Solo menjadi saksi peluncuran enam prototipe inovasi sosial hasil Program Srawung Sains–Tera Saintek Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Program yang mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi ini diresmikan melalui sebuah festival warga.

Menegaskan bagaimana riset perguruan tinggi dapat langsung menjawab kebutuhan masyarakat urban.

Acara peresmian dihadiri secara daring oleh perwakilan Ditjen Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek, Prof Dr Eng Yudi Darma, MSi, Camat Laweyan Herwin Tri Nugroho Adi, Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Puskesmas Penumping, dan Lurah Panularan.

Kehadiran berbagai unsur pemerintah ini menjadi bukti pengakuan terhadap upaya ko-kreasi antara akademisi dan komunitas.

Pemotongan pita dilakukan oleh Camat Laweyan sebagai tanda resmi digunakannya enam prototipe tersebut.

Enam Prototipe: Jawaban Riset UMS Atas Kebutuhan Warga Rusun Vertical Housing

Program Srawung Sains lahir melalui riset dan pendampingan intensif yang dilakukan langsung bersama penghuni Rusunawa.

Keenam prototipe ini dikembangkan untuk menjawab persoalan khas hunian vertikal yang padat dan minim ruang komunal. Dan menjadi solusi aplikatif berbasis kearifan lokal.

1. Ruang Komunal Berbasis Energi Surya

Basement yang sebelumnya gelap diubah menjadi ruang publik terang, aman, dan sehat berkat panel surya.

Area ini kini berfungsi sebagai pusat belajar, rapat warga, kegiatan seni, pertemuan kader TBC, hingga ruang kolaborasi lintas usia.

2. Dapur Komunal

Fasilitas ini dikembangkan untuk memperkuat interaksi sosial dan ketahanan pangan keluarga, terutama melalui pemberdayaan ibu-ibu.

Ke depan, dapur komunal dapat berkembang sebagai sentra usaha mikro komunitas.

3. Smoking Corner (Pojok Merokok)

Area khusus merokok dibuat untuk menekan paparan asap rokok di koridor maupun kamar sempit.

Fasilitas ini selaras dengan desain perilaku (behavioral design) dalam program Kampung Peduli TBC, membantu mendorong kebiasaan merokok ke ruang yang lebih aman bagi warga.

4. Panel Surya Skala Komunitas

Penggunaan energi terbarukan untuk kemandirian energi sekaligus sarana edukasi lingkungan bagi warga.

5. Tanaman Obat Keluarga (TOGA) Cerdas Iklim

Pengembangan TOGA yang mendukung imunitas tubuh untuk pencegahan TBC sekaligus mengurangi jejak karbon melalui pemanfaatan halaman Rusunawa untuk menanam obat herbal, tanpa harus membeli obat kimia yang proses produksinya tinggi emisi.

6. Media Nudging

Intervensi perubahan perilaku melalui poster edukatif di tiang basement, tulisan promotif di anak tangga, hingga mural hasil kolaborasi anak muda, lansia, dan mahasiswa.

Ketua Tim Srawung Sains UMS, Dwi Linna Suswardany menegaskan bahwa program ini merupakan implementasi langsung Tridharma Perguruan Tinggi.

“Kami tidak membawa teknologi jadi, tetapi merancangnya bersama warga. Prototipe ini adalah kepemilikan komunal, yang lahir dari kearifan dan kebutuhan mereka sendiri," tegasnya.

Acara dilanjutkan dengan pemutaran video dokumenter yang memperlihatkan perjalanan riset hingga implementasi, serta festival seni warga dan tur meninjau seluruh prototipe yang telah diresmikan.

Ko-Kreasi dan Citizen Science, Arah Baru Kebijakan Berbasis Komunitas

Program Srawung Sains tidak berhenti pada inovasi fisik, tetapi menghadirkan pendekatan baru dalam pembangunan berbasis ilmu pengetahuan.

Warga dilibatkan sebagai mitra setara melalui proses ko-kreasi, mulai dari pemetaan masalah, perancangan solusi, uji coba prototipe, hingga evaluasi.

Dalam pendekatan citizen science, warga melakukan pemetaan lingkungan lewat transect walk dan photovoice, mencatat perubahan pencahayaan, kenyamanan ruang, hingga pergeseran perilaku harian.

Keenam prototipe juga dirancang sebagai satu ekosistem terpadu, yakni:

- Ruang komunal sebagai simpul diskusi,

- Dapur komunal menjadi laboratorium sosial,

- Smoking corner dan media nudging mendorong perubahan perilaku,

- Panel surya dan TOGA cerdas iklim menggabungkan agenda energi bersih, kesehatan, dan ketahanan lingkungan.

“TBC menular. Tapi harapan juga menular. Gotong royong pun menular. Ketika warga diberi ruang berkreasi, mereka bukan hanya mengubah lingkungan—tetapi mengubah jalan cerita sebuah penyakit yang membayangi dunia selama dua abad,” terang Dwi Linna.

Camat Laweyan Herwin Tri Nugroho Adi menilai, model ini berpotensi direplikasi.

Konsep ko-kreasi dapat diterapkan di kampung kota, desa, hingga pesisir dengan memanfaatkan ruang publik seperti balai desa atau pos ronda sebagai pusat pembelajaran komunitas.

Pendekatan ini diyakini dapat memperkuat implementasi kebijakan nasional seperti Kampung Peduli TBC, Program Kampung Iklim (Proklim), dan pengembangan layanan kesehatan tradisional integratif. (ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#rusunawa #prototipe #inovasi #tanaman obat keluarga #ruang komunal #UMS