RADARSOLO.COM-Tanggal Tahun Baru Imlek selalu berubah setiap tahun.
Meski demikian, perayaan ini tidak pernah keluar dari rentang 19 Januari hingga 20 Februari.
Pola tersebut bukan kebetulan, melainkan hasil dari sejarah panjang sistem penanggalan yang berkembang di Tiongkok sejak ribuan tahun lalu.
Ketua Yayasan Kelenteng Tien Kok Sie Sumantri menjelaskan, penetapan tanggal Imlek sejak awal berkaitan dengan perhitungan alam, khususnya peredaran bulan dan matahari.
“Tahun baru Imlek itu diambil dari perhitungan bulan, tapi dicampur dengan perhitungan matahari. Makanya jatuhnya selalu antara 19 Januari sampai 20 Februari, dan perhitungan ini dikenalkan oleh nabi Kongzi,” ujarnya.
Penetapan Awal di Dinasti Tiongkok Kuno
Dalam sejarahnya, penentuan awal tahun di Tiongkok kuno tidak selalu sama.
Pada masa dinasti-dinasti awal, penetapan tahun baru sempat berbeda-beda dan menyesuaikan kebijakan penguasa serta kebutuhan masyarakat saat itu.
Sumantri menyebut, sebelum sistem yang digunakan sekarang dikenal, tahun baru pernah ditetapkan pada 4 Februari, terutama pada masa sebelum Dinasti Han.
“Sebelum Dinasti Han, tahun baru itu pernah ditetapkan tanggal 4 Februari. Itu sudah ada sekitar 2.000 tahun sebelum kelahiran Nabi Kongzi,” kata Sumantri.
Penetapan tersebut erat kaitannya dengan siklus musim, khususnya awal musim semi yang dianggap sebagai awal kehidupan baru dalam sistem pertanian.
Peran Nabi Kongzi dalam Penyelarasan Penanggalan
Baca Juga: Imlek 2026 Tahun Baru Penuh Makna: Ini 4 Tradisi Populer Masyarakat Tionghoa di Indonesia
Perubahan penting dalam sistem penanggalan terjadi setelah lahirnya Nabi Kongzi (Kong Hu Cu) pada tahun 551 sebelum Masehi.
Menurut Sumantri, Nabi Kongzi memperkenalkan perhitungan waktu yang lebih teratur dan selaras dengan kehidupan masyarakat.
“Nabi Kongzi membuat perhitungan tahun baru itu untuk kepentingan para petani, supaya pas tahun baru Imlek masuk masa tanam atau musim semi,” jelasnya.
Sejak saat itu, perhitungan tahun baru tidak lagi semata-mata mengikuti kebijakan penguasa, melainkan disesuaikan dengan siklus alam agar tidak bergeser terlalu jauh dari musim tanam.
Penetapan yang kemudian menjadi dasar hingga sekarang terjadi pada masa Dinasti Han.
Pada masa inilah sistem penanggalan lunisolar, yang menggabungkan peredaran bulan dan matahari, ditetapkan secara resmi.
“Sejak Dinasti Han itulah ditetapkan bahwa tahun baru Imlek dihitung dari peredaran bulan, tapi tetap disesuaikan dengan matahari,” ujar Sumantri.
Dalam sistem ini, Tahun Baru Imlek jatuh pada bulan baru kedua setelah titik balik matahari musim dingin, yang biasanya terjadi sekitar 21 atau 22 Desember.
Dari perhitungan inilah kemudian muncul pola tanggal Imlek yang selalu berada antara 19 Januari hingga 20 Februari.
Mengapa Tanggal Imlek Terus Bergeser
Karena menggunakan kalender berbasis bulan, satu tahun Imlek memiliki jumlah hari lebih sedikit dibanding kalender Masehi.
Hal ini menyebabkan tanggal Imlek terlihat maju atau mundur setiap tahun.
Namun pergeseran tersebut tidak dibiarkan begitu saja. Sistem penanggalan ini memiliki mekanisme penyesuaian agar tahun baru tetap berada di musim yang sama.
Baca Juga: Kue Keranjang Imlek 2026 Cepat Berjamur? Ini Tips Menyimpannya agar Tahan Lama dan Tetap Kenyal
Kalau tidak disesuaikan, nanti musim tanamnya bisa bergeser. Makanya ada perhitungan supaya tetap jatuh di musim semi.
Dengan mekanisme tersebut, Imlek tidak pernah keluar dari rentang Januari dan Februari.
Sumantri menegaskan bahwa selama sistem perhitungan alam ini tidak berubah, maka pola tanggal Imlek juga akan terus sama.
“Selama perhitungannya seperti ini, Imlek pasti selalu jatuh di antara 19 Januari sampai 20 Februari,” ujarnya.
Hingga kini, sistem penetapan tersebut masih digunakan dan menjadi dasar perayaan Imlek di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.
Meski kalender Masehi terus berjalan dengan tanggal yang tetap, penanggalan Imlek akan selalu bergerak mengikuti siklus alam yang telah ditetapkan sejak ribuan tahun lalu.
Dengan demikian, pergeseran tanggal Imlek setiap tahun bukanlah keanehan, melainkan bagian dari sistem penanggalan kuno yang dirancang untuk menjaga keseimbangan antara waktu, musim, dan kehidupan manusia. (agna)
Editor : Tri wahyu Cahyono