RADARSOLO.COM-Prosesi pelantikan Suasana Pelantikan Rektor Universitas Boyolali (UBY) periode 2026-2030 diwarnai aksi demo.
Pelantikan yang digelar di Graha Amarta kampus setempat mendapat penolakan oleh Senat UBY, serta mahasiswa.
Sebelum Rektor UBY, Nanik Sutami kembali dilantik sebagai rektor, ketua senat UBY Purwadi naik ke mimbar untuk menyampaikan mosi tidak percaya atas pelantikan rektor.
Beberapa dosen, staf yang semula duduk di kursi acara pelantikan pun langsung berdiri, dan membentangkan spanduk penolakan Nanik sebagai rektor lagi.
Tak sampai disitu, setelah menyampaikan mosi tidak percaya, Senat melakukan aksi walkout.
Hingga beberapa saat, mahasiswa juga ikut menggelar aksi di depan gedung dengan membawa spanduk dan berorasi.
Beberapa mahasiswa merobohkan karangan bunga yang ada di samping lokasi pelantikan.
MEreka juga berusaha masuk ke dalam gedung, namun dihalangi oleh petugas keamanan.
Meski terjadi penolakan, prosesi pelantikan Nanik sebagai rektor UBY periode 2026-2030 tetap digelar hingga selesai.
Sementara itu, setelah acara pelantikan selesai, Nanik mempersilakan seluruh mahasiswa yang demo masuk ke Graha Amarta untuk beraudiensi.
Perwakilan mahasiswa kemudian menyampaikan beberapa tuntutan.
Di antaranya berupa ketersediaan sarana kebutuhan dasar mahasiswa, pertanggung jawaban, hingga meminta pengangkatan Nanik dibatalkan.
Baca Juga: Kejari Klaten Blender Ratusan Gram Sabu dan Bakar 42 Ribu Butir Pil Psikotropika
Ketua BEM UBY Yudha Wardhana mengatakan, ada 6 poin yang menjadi tuntutan mahasiswa.
Dari keenam tuntutan, secara garis besar, mereka tak puas dengan kepemimpinan Nanik selama ini.
"Ini terkait dengan keresahan mahasiswa,” jelas Yudha usai audiensi dengan Rektor UBY.
Meski tuntutan agar pengangkatan Nanik sebagai rektor dibatalkan tak bisa dipenuhi, mahasiswa bertekad mengawal kepemimpinanNanik.
“Akan kita kawal terus, agar benar-benar mencerminkan kepemimpinan rektor yang demokratis dan berpihak suara mayoritas," tambahnya.
Diketahui, Universitas Boyolali merupakan perguruan tinggi di bawah Yayasan Bhenika Karya.
Hanya saja, pengangkatan dan pemberhentian rektor merupakan kewenangan dewan pembina yayasan setempat.
Ketua Yayasan Bhenika Karya Indriyatmoko menyatakan tak bisa memenuhi tuntutan mahasiswa untuk membatalkan pengangkatan rektor.
" Kalau membatalkan itu tidak bisa. Karena ranahnya pembina yayasan," ujarnya.
Mahasiswa akhirnya mengubah tuntutan yang awalnya membatalkan pelantikan rektor, menjadi dikaji ulang.
Indriyatmoko mengungkapkan, pihaknya tidak mempermasalahkan tuntutan agar dikaji ulang.
Namun tidak serta merta langsung dibatalkan.
“Mekanisme (pemilihan rektor) itu sudah sesuai dengan peraturan yang dibuat oleh yayasan,” tambahnya.
Baca Juga: Tirakatan Hari Pers Nasional Kota Solo 2026 Jadi Ajang Sinergi Pimpinan Daerah Solo Raya
Terkait beberapa tuntutan lain yang utarakan oleh mahasiswa, pihaknya akan menindaklanjuti.
Salah satunya terkait fasilitas penunjang belajar yang memadai.
"Nanti kita tinggal minta detailnya itu seperti apa. Saya malah senang diajak diskusi. Mahasiswa mintanya apa. Tapi kembali harus melihat anggaran," pungkas Indriyatmoko. (fid)
Editor : Tri wahyu Cahyono