Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Kumpulkan Rp4,9 Miliar Tanpa Dana Desa, KDMP Metuk Boyolali Jadi Percontohan Koperasi Nasional

Abdul Khofid Firmanda Putra • Jumat, 17 April 2026 | 18:07 WIB
KDMP Desa Metuk, Kecamatan Mojosongo, Boyolali, menorehkan prestasi gemilang di tingkat nasional. (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)
KDMP Desa Metuk, Kecamatan Mojosongo, Boyolali, menorehkan prestasi gemilang di tingkat nasional. (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Desa Metuk, Kecamatan Mojosongo, Boyolali menorehkan prestasi gemilang di tingkat nasional melalui pengelolaan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Koperasi ini dinobatkan sebagai percontohan nasional karena mampu menunjukkan kemandirian finansial yang luar biasa.

Tanpa menyentuh Dana Desa (DD) maupun bergantung pada pinjaman perbankan, KDMP Metuk sukses menghimpun modal jumbo untuk menggerakkan roda ekonomi masyarakat.

Strategi Mandiri Tanpa Dana Desa

Gebrakan KDMP Metuk yang diresmikan oleh Menteri Koperasi pada Oktober 2025 ini terletak pada sistem permodalannya yang murni berbasis kekuatan internal warga.

Baca Juga: Tak Pengaruh Konflik di Timur Tengah, Minat Daftar Haji Warga Klaten Masih Tinggi Pasca-Lebaran

Direktur Pengelola KDMP Metuk Sumono mengungkapkan, pihaknya berhasil mengumpulkan modal sebesar Rp4,9 miliar dari 703 anggota.

Angka fantastis tersebut diperoleh melalui kombinasi simpanan pokok, simpanan wajib, serta inovasi berupa simpanan wajib khusus dan modal penyertaan.

“Modalnya kami dari anggota. Akan tetapi karena modalnya dengan simpanan kecil, kami tambah ada simpanan wajib khusus dan modal penyertaan. Kami mengumpulkan total Rp4,9 miliar,” jelas Sumono saat memaparkan struktur modal koperasi tersebut.

Untuk mempercepat pertumbuhan modal, Sumono menjalankan strategi cerdas dengan menggandeng 56 warga kelas menengah ke atas di Desa Metuk yang ia juluki sebagai "56 naga".

Kelompok ini menyetorkan iuran besar berkisar antara Rp10 juta hingga Rp400 juta per orang. Pendekatan persuasif dilakukan dengan menanamkan visi ekonomi bersama. “Kami jelaskan ke mereka, bahwa bisnis ini dari kita untuk kita, mereka tertarik,” beber Sumono.

Ekosistem Bisnis Terpadu

Baca Juga: Tekan Angka Kecelakaan, Dishub Boyolali Gencarkan Transformasi Keselamatan Berbasis Data

KDMP Metuk kini telah memiliki gedung operasional dua lantai yang representatif di atas tanah kas desa. Fasilitas di dalamnya sangat lengkap.

Mulai dari toserba, gudang, kios pupuk, apotek, hingga klinik kesehatan.

Tidak hanya itu, koperasi ini berhasil memutus rantai tengkulak yang selama ini merugikan petani. Produk sayuran dan beras dipasok langsung dari petani lokal Metuk, sehingga harga di gerai koperasi lebih kompetitif dan margin keuntungan petani lebih terjaga.

“Kami ada produk sayur yang diambil dari orang pertama, tanpa tengkulak. Beras juga dari petani Metuk, sehingga harganya lebih murah karena tanpa tengkulak,” kata Sumono menekankan efisiensi distribusi pangan yang mereka jalankan.

Baca Juga: Wabup Karanganyar Ajak Masyarakat Getol Perangi Rokok Bodong

Kemandirian ini juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja lokal, di mana seluruh karyawan unit usaha mulai dari sektor sembako hingga tenaga medis di klinik desa merupakan warga asli Desa Metuk.

Sejak mulai beroperasi hingga akhir Oktober 2025 saja, koperasi sudah mampu membukukan omzet Rp125 juta dengan laba bersih mencapai Rp21 juta.

Capaian ini diharapkan menjadi inspirasi bagi ratusan koperasi desa/kelurahan Merah Putih lainnya di seluruh Indonesia untuk membangun kedaulatan ekonomi dari tingkat desa. (fid)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#Boyolali #percontohan nasional #KDMP #desa metuk