RADARSOLO.COM- Kekeringan yang melanda Kabupaten Boyolali memaksa warga di wilayah rawan melakukan upaya ekstra untuk mendapatkan air.
Di Dukuh Bogor Kopen, Desa Bojong, Kecamatan Wonosegoro, warga terpaksa membuat belik (resapan air) yang dibuat di tepi sungai yang mulai mengering.
Suasana memprihatinkan tampak saat Sutini, 50, berjongkok di tanah berbatu dan kering.
Menggunakan gayung, ia mengambil air dari belik lalu menuangkannya berulang kali ke dalam dua jerigen plastik berkapasitas 19 liter hingga penuh.
Baca Juga: Ratusan Seniman Suarakan Empati Lewat Karya Seni Di TBJT Solo
Air sungai di sekitarnya tampak berwarna hijau pekat dan berdebu.
Sutini mengaku pasrah menggunakan air keruh tersebut untuk kebutuhan sanitasi harian.
“Iya ini (air) untuk mandi,” tutur Sutini, Kamis (6/8/2026).
Camat Wonosegoro Ragil Pambudi mengungkapkan, dari total 11 desa di wilayah Kecamatan Wonosegoro, dampak kekeringan melanda 3 desa, yaitu Desa Kauman, Desa Bojong, dan Desa Guwo.
"Dampak kekeringan tidak dialami seluruh wilayah desa, melainkan terpusat di beberapa dukuh," jelas Ragil, Kamis (6/8/2026).
Khusus di Desa Bojong, wilayah yang terdampak krisis air bersih tersebar di 4 titik, yakni Dukuh Krajan RT 04 dan RT 05, Dukuh Tempuran RT 01 RW 03, Dukuh Jonggol, serta Dukuh Bogor Kopen.
Ragil membeberkan bahwa penurunan pasokan sumber air warga terjadi sejak minggu ketiga bulan Juli.
Untuk merespons kondisi tersebut, pihak kecamatan berkoordinasi intensif dengan BPBD Kabupaten Boyolali.
"Khusus untuk Desa Bojong, hingga saat ini telah disalurkan sebanyak 22 tangki air bersih atau sekitar 116 ribu liter," ungkapnya.
Guna menanggulangi krisis air, Pemerintah Kecamatan Wonosegoro menyiapkan skema penanganan jangka pendek berupa koordinasi rutin dropping air bersih.
Baca Juga: Jaga Stok Darah dan Kepedulian Sosial, DWP ISI Surakarta Rutin Gelar Aksi Donor Darah
Serta skema jangka menengah dan panjang berupa pembangunan sumur bor.
"Contohnya di Desa Kauman, wilayah yang telah memiliki sarana sumur bor kini terbebas dari ancaman kekeringan. Kami berencana mengusulkan penambahan sumur bor bagi dukuh-dukuh yang secara teknis memungkinkan," tambah Ragil.
Adapun wilayah dengan kendala geografis tanpa cekungan air tanah diusulkan mendapat perluasan jaringan perpipaan PDAM.
Sementara itu, Plt Kepala Pelaksana BPBD Boyolali Ari Wahyu Prabowo menjelaskan, jangkauan penyaluran bantuan air bersih terus diperluas mencakup Kecamatan Juwangi, Kemusu, Wonosegoro, Wonosamodro, Tamansari, Musuk, Selo, Cepogo, dan sebagian Andong.
"Meski demikian, tidak menutup kemungkinan wilayah lain yang secara historis bukan daerah rawan kekeringan juga akan mendapatkan bantuan dropping air jika situasi di lapangan membutuhkan," katanya.
Baca Juga: Banjir Keluhan Sampah, Sungai Gandul Selatan Pasar Gawok Sukoharjo Akhirnya Dibersihkan
"BPBD siap menindaklanjuti setiap kebutuhan air bersih masyarakat atas arahan Bupati, khususnya selama musim kemarau panjang ini," imbuh Ari.
Merujuk prakiraan BMKG, musim kemarau diprediksi berlangsung hingga akhir Oktober atau November.
Langkah penanganan BPBD dibagi dalam tiga tahap.
Mulai dari aksi cepat (Quick Win), penambahan frekuensi dropping air, perluasan jaringan PUDAM, hingga pembangunan embung penampung air hujan.
Baca Juga: Saling Melengkapi, Jateng-Kaltim Kantongi Potensi Ekonomi Kerja Sama Rp20,2 Triliun
BPBD juga merancang program jangka panjang 15–20 tahun ke depan melalui rehabilitasi kawasan rawan kekeringan lewat reboisasi.
“Pemerintah berencana menggandeng pihak TNGMb dan pecinta lingkungan, untuk mengganti vegetasi yang mudah terbakar dengan tanaman konservasi air khas Merbabu. Langkah ini krusial untuk menjaga daya resap tanah serta melestarikan mata air yang masih berdebit besar demi masa depan,” pungkas Ari. (fid)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com