RADARSOLO.COM - Di sudut kampung Sembung Harjo, Kota Semarang, Jawa Tengah, langkah kecil membangun Koperasi Kelurahan/Desa Merah Putih (KDKMP) bermula dari ruang rapat sederhana dan iuran anggota yang tak seberapa.
Tanpa modal besar, tanpa pula suntikan dana instan dari bank. Yang ada hanyalah keyakinan dan gotong royong warga sekitar.
Adalah Sunari, 62, yang menghidupkan napas KDKMP Sembung Harjo. Mengemban jabatan sebagai ketua, ia ingat betul bagaimana koperasi itu mulai dirintis setelah akta terbit pada Juni 2025 lalu.
Setelah dokumen lengkap, ia segera mengumpulkan para pendiri untuk membentuk struktur kepengurusan.
“Setelah jadi, baru kami susun rencana kegiatan. Simpanan pokok dan wajib mulai saya jalankan Juli 2025,” ujarnya, Kamis (7/5).
Baca Juga: Perkuat Jaringan KDMP, Pemprov Jateng Gandeng Sejumlah BUMN
Di awal perjalanan, Sunari menekankan agar seluruh pengurus lebih dulu menjadi anggota aktif. Sekira 15 orang akhirnya terkumpul dan melunasi simpanan pokok sebesar Rp250 ribu serta simpanan wajib Rp20 ribu per bulannya. Dari modal kecil itulah koperasi mulai bergerak.
"Akhirnya sesama pengurus mengumpulkan modal. Itu tidak ada dorongan atau bantuan modal dari pemerintah. Regulasiny dipercepat, tapi prosesnya masih terseok seok," ujarnya.
Meski demikian, semangat Sunari tak pernah luntur. Ia menggandeng para pengampu wilayah, termasuk RT setempat, untuk memperkenalkan koperasi kepada masyarakat.
Perlahan anggota mulai bertambah. Di lahan milik desa seluas 4 x 6 meter, koperasi mulai berdiri.
Memasuki Agustus 2025, modal terkumpul sebesar Rp5 juta. Dengan dana itu, para pengurus mulai menjalin kerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan, Bulog, hingga sejumlah distributor kebutuhan pokok.
Usaha pertama yang dijalankan pun sederhana dengan menyediakan sembako, telur, gula, hingga LPG subsidi.
Sunari memilih cara yang berbeda. Ia tidak menumpuk stok barang di kantor koperasi. Sistem yang dipakai adalah pemesanan berdasarkan daftar kebutuhan warga melalhi grup Whatsapp.
“Saya umumkan harga bahan pokok lewat grup WA. Kalau ada yang pesan baru kami ambilkan ke dinas pangan, jadi kita tidak menumpuk stok di gudang,” katanya.
Cara itu kemudian berjalan efektif. Warga mulai rutin memesan kebutuhan pokok melalui koperasi karena dinilai lebih praktis dan terjangkau.
Baca Juga: Duh, KDMP 15 Kelurahan di Karanganyar Terkendala Aset
Lambat laun, layanan koperasi terus berkembang. Saat ini, KDKMP Sembung Harjo juga melayani pembayaran PBB, BPJS, listrik, hingga pajak kendaraan bermotor.
“Kami kerjasama denban Samsat, ingin membantu masyarakat yang sibuk supaya tetap bisa mengurus pajaknya,” ujar Sunari.
Jumlah anggota pun melonjak. Dari semula hanya 15 orang, kini koperasi memiliki sekitar 105 anggota dengan modal yang terus berkembang Rp25 sampai Rp30 juta.
Untuk stok barang seperti LPG subsidi, koperasi mendapat alokasi sekitar 75 tabung per minggu. Namun untuk bisa menjalankan distribusi itu, koperasi harus menyediakan modal membeli tabung kosong lebih dulu.
“Modal awal kita ya tabung gas itu,” katanya.
Meski begitu, Sunari sengaja menghindari pinjaman bank di tahap awal. Menurutnya, koperasi harus tetap berhati-hati agar tidak terbebani bunga pinjaman yang justru membuat harga barang subsidi menjadi mahal.
“Kalau pinjam ke bank, saya khawatir akan tombok. Koperasi ini kan perpanjangan tangan pemerintah untuk distribusi barang subsidi,” jelasnya.
Ia mencontohkan distribusi LPG subsidi yang harus tetap dijual sesuai ketentuan harga. Bila dibebani bunga pinjaman, koperasi dikhawatirkan justru merugi.
"Gas harus kita jual Rp18 ribu per tabung, agar sesuai HET," terangnya.
Karena itu, ia memilih membangun koperasi dari kekuatan anggota sendiri.
Meski antusiasme masyarakat cukup tinggi, tantangan masih ada. Banyak warga yang merasa tidak perlu menjadi anggota karena tetap bisa membeli kebutuhan pokok langsung di koperasi. Padahal dengan menjadi anggota memiliki keuntungan ketersediaan barang.
Baca Juga: Sukoharjo Dijanjkan 50 Unit Pikap KDMP, Tapi Yang Datang Cuma Satu
"Memang kita prioritaskan bagi anggota terlebih dahulu, supaya koperasi ini bisa berjalan," bebernya.
Di sisi lain, keterbatasan kuota barang juga menjadi kendala. Bulog hanya menyediakan minyak goreng sekitar 30 karton per minggu dan beras SPHP sekitar dua ton per minggu sesuai kapasitas koperasi.
"Dari Dinas Ketahanan Pangan, kuota gula dibatasi sekitar 50 pak dan beras maksimal 300 pak," imbuhnya.
Bahkan sejak Idulfitri lalu, stok Minyak Kita masih kosong dan belum kembali tersedia. Meski masih penuh keterbatasan, Sunari optimistis koperasi yang dibangun dari iuran warga itu dapat menjadi sumber ekonomi desa. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto