Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo Gaya hidup

Harga Rendah, Pedagang Sayuran Di Solo Tolak Jadi Pemasok MBG

Alfida Nurcholisah • Senin, 6 Juli 2026 | 17:56 WIB
Pedagang sayur di Pasar Gede Solo tidak mau menjadi penyuplai sayur MBG. (ALFIDA NURCHOLISAH/RADAR SOLO)
Pedagang sayur di Pasar Gede Solo tidak mau menjadi penyuplai sayur MBG. (ALFIDA NURCHOLISAH/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Program makan bergizi gratis (MBG) belum sepenuhnya menarik minat pedagang pasar tradisional untuk menjadi pemasok bahan baku.

Sejumlah pedagang di Pasar Legi Solo justru menolak tawaran memasok kebutuhan MBG karena harga pembelian dinilai terlalu rendah dan skema kerja sama dianggap memberatkan pedagang. 

Salah seorang pedagang sayur Pasar Legi Iva Sri Surahmi mengatakan, pernah mendapat tawaran untuk menyuplai kebutuhan sayur bagi MBG.

Namun tawaran tersebut langsung ditolaknya lantaran harga yang diminta berada di bawah harga pasar.

Baca Juga: Harga Telur Ayam Fluktuatif, Pedagang Pasar Legi Solo Waswas Stok Banyak

"Kalau MBG itu maunya barang bagus, tapi belinya murah. Harga yang ditawarkan di bawah harga pasara. Selisihnya bisa sampai Rp 2.000 per kilogram," ujarnya saat ditemui di Pasar Legi, Senin (6/7).

Menurut Iva, harga yang ditawarkan tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan pedagang.

Apalagi, komoditas sayuran saat ini sedang mengalami kenaikan akibat berkurangnya hasil panen karena musim kemarau.

Iva mengatakan, dalam tiga hingga empat hari terakhir harga timun melonjak dari Rp 5.000 menjadi Rp 14.000 per kilogram, sedangkan kacang panjang naik dari Rp 5.000 menjadi Rp 10.000 per kilogram.

Baca Juga: Di Bawah Supervisi Danantara, BRI Tebar Dividen  Terbesar Sepanjang Sejarah, Kontribusi Nyata untuk Ekonomi Kerakyatan

"Sayuran hijau juga naik seperti bayam dan kangkung, tapi naiknya tidak terlalu signifikan, seribu per ikat," katanya.

Dia mengaku lebih memilih mempertahankan pelanggan tetap, seperti rumah makan dan pembeli rumah tangga dibanding mengambil risiko memasok MBG dengan keuntungan yang sangat tipis.

"Saya pernah ditawari, tapi saya bilang barangnya sudah laku. Jadi saya tidak ambil. Lebih baik jual ke pelanggan biasa," katanya.

Selain harga rendah, pedagang juga khawatir terhadap standar kualitas yang cukup ketat. Barang yang tidak sesuai spesifikasi berpotensi dikembalikan sehingga semakin meningkatkan risiko kerugian.

Keluhan serupa disampaikan pedagang telur Pasar Legi Sandi Setiawan.

Dia mengungkapkan sempat diminta memasok telur hingga lima ton untuk kebutuhan MBG. Namun kerja sama tersebut batal karena sistem pembayaran dilakukan secara tempo.

Baca Juga: Nihil Sumber Bahan Baku Kayu, Solo Tetap Unjuk Gigi Produk Furnitur lewa Srikayu Furni Fest Road to Interfex

"Kalau saya enggak berani. Mintanya lima ton, tapi bayarnya tempo seminggu. Modal kami dari uang sendiri, bukan dapat bantuan pemerintah. Kalau pembayarannya ditunda, ya kami enggak sanggup," jelasnya.

Menurut Sandi, pedagang pasar umumnya mengandalkan perputaran modal harian.

Karena itu pembayaran secara kredit dinilai cukup memberatkan, terlebih harga telur juga masih berfluktuasi.

Dia mengatakan tidak semua peternak maupun pedagang bersedia memasok MBG.

Selain harga pembelian lebih rendah dibanding pasar, pembayaran yang tidak langsung diterima membuat banyak pelaku usaha memilih tetap menjual melalui jalur distribusi biasa.

"Kalau ada uang, ada barang. Tapi kalau harus tempo, kami enggak bisa jalan. Kecuali memang ada modal dari pemerintah," tegasnya.

Sementara itu, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Solo mendorong pedagang pasar untuk membentuk semacam konsorsium atau paguyuban khusus untuk pemenuhan kebutuhan program makan bergizi gratis (MBG).

Langkah tersebut dinilai penting, agar pedagang pasar tradisional bisa menikmati dampak dari program pemerintah itu.

Baca Juga: Cek Harga Buyback Emas Antam di Akhir Pekan Ini, Investor Bisa Full Senyum

Kepala Disdag Kota Solo Arif Handoko menjelaskan, pembentukan konsorsium diperlukan agar pedagang memiliki posisi lebih kuat saat menjadi pemasok satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG).

Selain itu, skema tersebut juga untuk mengantisipasi sistem pembayaran tempo yang selama ini dikhawatirkan memberatkan pedagang kecil.

“Kami mengimbau pedagang membentuk konsorsium melalui paguyuban pasar. Nanti kalau SPPG belanja di situ dan pembayarannya tempo, bisa dibicarakan bersama. Kalau pedagang berjalan sendiri, tentu akan berat,” jelasnya. (mg1/alf/bun)

Editor : fery ardi susanto
#Mbg #Pedagang sayur #pasar gede solo