RADARSOLO.COM - Anak-anak SD di Solo mengikuti program kunjungan budaya di Sanggar Tari Sukoasih, Sukoharjo, 19 November lalu.
Jari-jemari kecil berusaha melipat jarik di tubuhnya. Dengan kesabaran penuh, anak-anak tak sendiri. Proses pelipatan juga dibantu oleh para pegiat seni di Sanggar Sukoasih, Sukoharjo, 19 November lalu.
Bukan hanya melipat jarik saja, anak-anak sekolah dasar tersebut juga diajari mengenakan stagen. Stagen merupakan semacam alat yang digunakan bersamaan dengan jarik sebagai pelengkap pakaian adat Jawa.
"Ini merupakan kegiatan kunjungan budaya adik-adik SDN 6 Sumber ke Sanggar Tari Sukoasih. Program tersebut kerja sama antara sanggar tari bersama institusi sekolah dasar. Jadi tujuannya untuk membuka ruang pendidikan di luar kelas bagi anak usia tingkat dasar atau SD, seperti outing class. Konsepnya menggunakan konsep tradisional," ucap Pegiat Seni Fitri Anekawati kepada Jawa Pos Radar Solo.
Baca Juga: Filosofi Tari Jaran Kepang: Bentuk Perjuangan Pejuang Berkuda Zaman Dulu
Dalam agenda ini, sanggar tari digunakan sebagai wadah untuk mengajarkan tentang pendidikan karakter. Pendidikan karakter tersebut diperoleh dari sebuah pelatihan.
"Di mana anak anak akan berlatih menggunakan jarik dengan penuh kesabaran, menggulung stagen. Mereka juga belajar menari dengan judul tarian gunung, yang memiliki filosofi tentang gotong royong, semangat bersama, dan berlatih bersama," jelas Fitri.
Tarian tersebut, lanjutnya, akan meningkatkan kompetensi dan semangat belajar untuk anak-anak. Sehingga dalam hal ini, sanggar tari konsepnya tidak hanya melestarikan, tapi ditambah ikut memajukan kebudayaan Indonesia.
"Kolaborasi ini bisa digunakan sebagai peningkatan konsentrasi tingkat kognitif anak-anak. Jadi kalau anak-anak langsung diajarkan praktek, diberi kemudahan, maka mereka akan lebih mudah memahami begitu," sambung Fitri.
Pelaksanaan kunjungan ini juga bersifat nonkomersil. Fitri menjelaskan, dari anak-anak SD tidak dibebankan membayar sejumlah uang. Tapi konsepnya gotong royong dengan anak-anak sebanyak 28 orang, 3 guru pendamping, serta 5 wali murid.
"Value-nya adalah anak-anak menjadi percaya diri, jadi yang awalnya minder kemudian lama lama menjadi percaya diri. Bahkan mereka malah bilang ke saya ingin mencoba tarian seperti Sumatra, Kalimantan, hingga Sulawesi. Kami mewadahi keberanian mereka," paparnya.
Baca Juga: Hal Positif Anak Diajarkan Tari Dolanan: Melestarikan Warisan Budaya dengan Keceriaan
Selain pengenalan seni tari tradisi, anak-anak juga dikenalkan dengan berbagai makanan tradisional yang bergizi. Seperti putu ayu dan lain sebagainya. (nis/nik)
Editor : Niko auglandy