Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Misteri Yeti: Makhluk Misterirus dari Gunung Himalaya, Apakah Nyata atau Sekadar Legenda?

Syahaamah Fikria • Selasa, 25 Maret 2025 | 05:49 WIB
Ilustrasi Yeti
Ilustrasi Yeti

RADARSOLO.COM - Di puncak-puncak tertinggi Pegunungan Himalaya, legenda tentang makhluk misterius bernama Yeti terus bergema.

Sosok ini digambarkan sebagai makhluk menyerupai manusia, namun seluruh tubuhnya diselimuti bulu tebal berwarna putih atau abu-abu.

Sebagian menyebutnya sebagai Manusia Salju atau Abominable Snowman.

Sudah sejak lama, sosok Yei ini menjadi subjek perdebatan, apakah makhluk misterius itu nyata atau sekadar mitos belaka?

Dalam kisah rakyat yang berkembang di kalangan masyarakat Himalaya, Yeti dipercaya tinggal di daerah bersalju dan terpencil.

Makhluk ini dianggap buas dan digunakan sebagai cerita peringatan agar anak-anak tidak bermain terlalu jauh dari desa.

Kisah Yeti tak hanya hidup di Nepal atau Tibet, tapi juga merambah Rusia, China, dan bahkan menjadi tokoh dalam film serta budaya pop Barat.

Awal Mula Legenda Yeti

Asal-usul nama Yeti berasal dari bahasa lokal Sherpa, yaitu "metohkangmi" yang berarti “manusia salju liar”.

Di dunia Barat, istilah "Abominable Snowman" pertama kali muncul tahun 1921 dari catatan ekspedisi Letnan Kolonel Charles Howard-Bury ke Gunung Everest.

Saat itu, jejak kaki besar ditemukan dan disalahartikan oleh wartawan menjadi jejak makhluk "mengerikan".

Sejak saat itu, legenda Yeti menyebar luas. Sosoknya menjadi ikon misteri yang digambarkan seperti gorila raksasa berjalan tegak, berukuran besar, dan memiliki kekuatan luar biasa.

Yeti pun kerap menjadi bahan film, dokumenter, dan buku.

Penampakan dan Penelusuran Jejak Yeti

Legenda Yeti atau manusia salju bukan hanya cerita rakyat semata, tapi juga pernah tercatat dalam sejarah ekspedisi dan pengamatan ilmiah sejak abad ke-19.

Salah satu kisah tertua muncul pada tahun 1832, saat B.H. Hodgson—seorang naturalis Inggris—melakukan perjalanan ke wilayah Nepal Utara.

Dalam perjalanannya, pemandu lokal mengklaim melihat sosok tinggi, berbulu hitam lebat, berjalan dengan dua kaki, dan segera menghilang ke dalam hutan.

Hodgson sendiri meyakini makhluk tersebut kemungkinan adalah orang utan, meskipun spesies itu tidak dikenal hidup di wilayah Himalaya.

Beberapa dekade kemudian, pada tahun 1899, laporan serupa kembali muncul mengenai makhluk menyerupai kera raksasa yang meninggalkan jejak misterius di wilayah pegunungan.

Namun para ahli menduga jejak tersebut berasal dari beruang besar yang hidup di kawasan itu, bukan makhluk mitologi.

Yeti Masuk Era Penjelajahan Modern

Memasuki abad ke-20, pencarian Yeti memasuki babak baru.

Pada tahun 1925, seorang fotografer sekaligus anggota Royal Geographical Society, N.A. Tombazi, mengaku menyaksikan makhluk misterius di dekat Gletser Zemu pada ketinggian sekitar 4.500 meter.

Dari kejauhan, ia melihat sosok mirip manusia yang berjalan tegak, tanpa pakaian, dan sesekali memetik tanaman liar.

Meski pengamatan berlangsung hanya sekejap, kesaksian ini menambah panjang daftar laporan penampakan Yeti.

Tahun 1951 jadi momen penting dalam sejarah mitos Yeti ketika pendaki asal Inggris, Eric Shipton, menemukan dan mengabadikan foto tapak kaki raksasa di Merlung Glacier, dekat perbatasan Nepal dan Tibet.

Jejak tersebut menyerupai kaki manusia namun dengan ukuran yang jauh lebih besar.

Foto ini memicu perdebatan luas, sekaligus menyulut minat global terhadap eksistensi Yeti.

Pada tahun 1954, ekspedisi besar-besaran yang dipimpin John Angelo Jackson menyusuri jalur dari Gunung Everest menuju Kangchenjunga, sambil mencari bukti keberadaan Yeti.

Ia berhasil memotret berbagai jejak kaki misterius di salju.

Beberapa di antaranya bisa diidentifikasi sebagai jejak hewan liar, namun sebagian lainnya tidak dapat dikenali.

Yang paling menarik dari ekspedisi ini adalah penemuan spesimen rambut dari kulit kepala yang disimpan di Biara Pangboche.

Rambut tersebut kemudian dikirim ke ahli anatomi Frederic Wood Jones, yang membandingkannya dengan rambut beruang dan primata.

Hasil analisisnya cukup membingungkan—rambut tersebut tidak cocok dengan beruang atau kera, dan diyakini berasal dari makhluk tak dikenal.

Mulai tahun 1957, pengusaha minyak asal Amerika Serikat, Tom Slick, membiayai berbagai ekspedisi untuk mencari jejak Yeti.

Salah satu misinya pada 1959 mengumpulkan sampel feses yang diklaim milik Yeti.

Saat diperiksa, ditemukan parasit langka yang tidak dapat diklasifikasikan, mengundang pertanyaan lebih lanjut mengenai asal muasalnya.

Pada tahun 1970, pendaki Inggris Don Whillans mengaku mengalami pertemuan langsung dengan sosok mencurigakan saat ekspedisi di Gunung Annapurna.

Ia mendengar suara aneh, melihat bayangan bergerak di malam hari, dan menemukan jejak kaki besar di pagi harinya.

Dengan bantuan teropong, ia menyaksikan makhluk mirip primata selama sekitar 20 menit.

Tahun 2007, presenter TV dari Amerika, Josh Gates, mengklaim menemukan jejak kaki besar di tepi sungai kawasan Himalaya.

Klaim ini memicu kontroversi, karena penduduk lokal menganggap Gates salah mengidentifikasi jejak beruang sebagai bukti Yeti.

Pada 2010, kisah berbeda datang dari China. Seorang pemburu menangkap hewan berkaki empat yang tidak berbulu dan menyerupai beruang.

Klaim bahwa itu adalah Yeti segera terpatahkan setelah hewan tersebut diidentifikasi sebagai musang yang mengalami kerontokan bulu akibat penyakit.

Analisis DNA Bantah Keberadaan Yeti?

Salah satu bukti paling menarik muncul dari sebuah biara di Nepal, di mana sebuah jari yang diyakini berasal dari Yeti disimpan selama bertahun-tahun.

Namun, analisis DNA yang dilakukan oleh para ilmuwan di Kebun Binatang Edinburgh pada 2011 menunjukkan bahwa jari tersebut ternyata milik manusia, kemungkinan seorang biarawan yang telah meninggal.

Pada tahun 2013, profesor genetika dari Oxford University, Bryan Sykes, menerima lebih dari 50 sampel yang diklaim sebagai bagian dari Yeti.

Setelah melalui proses uji DNA, mayoritas sampel ternyata berasal dari hewan biasa seperti kuda, sapi, dan beruang.

Dua sampel bahkan cocok dengan DNA beruang kutub zaman prasejarah yang hidup sekitar 40.000 hingga 120.000 tahun lalu.

Namun, studi lanjutan oleh ilmuwan lain seperti Ceiridwen Edwards dan Ross Barnett menunjukkan DNA tersebut sebenarnya milik beruang Himalaya, subspesies langka dari beruang coklat.

Temuan ini diperkuat dengan analisis tambahan oleh Ronald H. Pine dan Eliécer E Gutiérrez yang menyatakan tidak ada bukti bahwa sampel itu berasal dari makhluk selain beruang biasa.

Terakhir, pada 2017, tim ilmuwan menganalisis sembilan sampel “Yeti” yang berasal dari berbagai lokasi di Tibet dan Nepal.

Delapan di antaranya ternyata adalah bagian tubuh dari beruang lokal, dan satu sisanya berasal dari seekor anjing.

Fakta atau Sekadar Mitos?

Meski belum ada bukti kuat yang menunjukkan keberadaan Yeti sebagai spesies tersendiri, cerita dan kepercayaan terhadap makhluk ini tetap hidup.

Para peneliti meyakini bahwa mitos Yeti kemungkinan besar berasal dari salah tafsir terhadap keberadaan beruang langka atau hewan liar lainnya di Himalaya.

Namun bagi masyarakat lokal, Yeti lebih dari sekadar legenda.

Ia adalah simbol alam liar yang belum terjamah, misteri yang menantang logika, dan bagian penting dari tradisi lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi. (ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#manusia salju #mitos #legenda #nepal #penampakan #gunung himalaya #yeti #Fakta #makhluk misterius