Kisah Lansia Semanggi Menyulap Puing Menjadi Pangan: Dulu Naik Turun Tebing Cair Air, Kini Bermimpi Jadi Agrowisata

Silvester Kurniawan • Dipublikasikan Rabu, 14 Januari 2026 | 18:31 WIB
Kelompok Tani Subur Makmur sedang merawat tanaman. (Silvester Kurniawan/Radar Solo)
Kelompok Tani Subur Makmur sedang merawat tanaman. (Silvester Kurniawan/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Matahari belum terlalu tinggi di ufuk timur, namun gemeresik langkah kaki di atas tanah kering bantaran sungai sudah terdengar riuh. Di tepian Kali Bengawan, tepatnya di sisi barat tanggul Kampung Losari, Semanggi, sekelompok pria berambut perak tak lagi menghabiskan masa tua dengan sekadar duduk di kursi goyang. Mereka memilih bergelut dengan cangkul, lumpur, dan harapan.

Mereka adalah Kelompok Tani Subur Makmur. Sebuah nama yang sederhana, namun memikul misi besar dari 20 orang lansia yang rata-rata telah melampaui usia 60 tahun. Di tangan mereka, lahan sepanjang 200 meter yang dulunya hanya rimbunan semak belukar dan tumpukan puing sisa relokasi, kini bernapas kembali sebagai lumbung pangan mandiri.

Suwardi, 62, sang ketua kelompok, masih ingat betul bagaimana perjuangan "berdarah-darah" di awal 2022. Tanah yang mereka garap bukanlah lahan subur siap tanam. Di bawah permukaannya tertimbun sisa-sisa material bangunan yang membatu.

"Kami harus gotong royong kerja bakti. Sisa bongkaran bangunan itu kami timbun sedalam setengah meter supaya tanah yang masih baik bisa dipakai bertanam," kenang Suwardi.

Namun, tantangan sesungguhnya bukan hanya soal tanah, melainkan air. Sebelum bantuan sumur dalam datang dari Pemkot Solo pada pertengahan 2024, para lansia ini melakukan rutinitas yang sanggup membuat pemuda sekalipun mengeluh. Dengan tenaga yang tersisa, mereka harus naik-turun tanggul yang curam, menjinjing ember-ember berisi air dari aliran Kali Bengawan demi menyiram bibit cabai dan tomat mereka.

“Anggota harus rela ngangsu (mengambil air) kalau ingin tetap panen. Kondisinya memang seperti itu, harus bolak-balik naik-turun tebing sungai. Tapi kami lakukan dengan senang hati,” ujar Suwardi dengan binar mata yang masih menyala.

Kini, suara mesin sumur dalam telah menggantikan deru napas terengah-engah saat ngangsu. Lahan itu pun semakin rimbun. Tak lagi hanya cabai, kini ada ketela pohon, pisang, pepaya, hingga jagung. Bahkan, suara kokok ayam, riuh mentok, dan embikan kambing kini menjadi musik harian di tepi sungai tersebut.

Sekali panen, ketela mereka bisa mencapai 3 hingga 5 kuintal. Sebagian dikonsumsi, sebagian dijual ke warga sekitar, dan sebagian lagi masuk ke pasar digital (marketplace).

Namun, hidup di tepi Bengawan berarti harus bersahabat dengan risikonya. Jika musim kemarau mereka bertarung dengan kekeringan, di musim penghujan mereka harus "ikhlas" berbagi ruang dengan banjir. Saat air Bengawan meluap, lahan hijau itu bisa terendam hingga setengah hari.

"Kalau sudah begitu, ya pasrah saja. Kondisi alamnya memang seperti itu," katanya lirih, menunjukkan ketabahan khas orang tua yang sudah paham asam garam kehidupan.

Semangat ini menular. Dwi Endro Cahyoni, Pembina Kelompok sekaligus Ketua RT setempat, menyaksikan sendiri bagaimana aktivitas ini menjadi "obat" bagi para lansia agar tetap berdaya. Baginya, lahan ini bukan sekadar kebun, tapi ruang silaturahmi yang produktif.

Harapan besar pun digantungkan saat Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani menyambangi markas mereka, Senin (13/1). Mereka bermimpi, sepetak lahan di bantaran ini tak hanya menghasilkan pangan, tapi menjelma menjadi Agrowisata Edukasi.

“Harapan kami ingin jadi seperti Agrowisata. Biar ada nilai edukasinya juga buat siapa saja yang datang ke sini,” harap Endro.

Selain mimpi wisata, mereka hanya punya satu keinginan sederhana lainnya: diakui secara resmi sebagai kelompok tani agar bisa mengakses subsidi pupuk. Di usia yang senja, para penjaga tepian Bengawan ini membuktikan satu hal: selama tangan masih bisa mencangkul dan hati masih mau peduli, tanah yang terbengkalai pun bisa memberikan kehidupan bagi sesama. (alf/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
musim kemaru gotong royong agrowisata kelompok tani wisata