Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Melawan Waktu dengan Kayuhan Klasik: Kisah Solo Raya Vintage Roadbike Menjaga Marwah Sepeda Balap Lawas

Silvester Kurniawan • Rabu, 22 April 2026 | 18:38 WIB
Anggota Solo Raya Vintage Roadbike rutin gowes dengan rute puluhan kilometer. (Ist)
Anggota Solo Raya Vintage Roadbike rutin gowes dengan rute puluhan kilometer. (Ist)

RADARSOLO.COM - Di tengah gempuran sepeda modern berbahan karbon yang ringan dan serba otomatis, sekelompok pesepeda di Solo Raya memilih jalan yang berbeda. Mereka tidak mengejar kecepatan mutakhir, melainkan keanggunan desain dan deru mesin manual dari masa lalu. Bagi komunitas Solo Raya Vintage Roadbike, setiap kayuhan adalah dialog dengan sejarah.

Lahir pada pertengahan 2022, komunitas ini bermula dari obrolan santai di media sosial. Terinspirasi oleh pergerakan nasional Vintage Roadbike Indonesia (Viroke), Ariyanto Adhi Nugroho bersama para kolektor lokal memutuskan untuk membangun wadah yang lebih intim di Bumi Bengawan.

Baca Juga: Sidak PLTSa Putri Cempo, Pansus LKPJ DPRD Solo Kejar Target Kelola 200 Ton Sampah Per Hari

Berbeda dengan klub olahraga yang kaku, Solo Raya Vintage Roadbike tumbuh dengan semangat gotong royong dan struktur yang luwes. Meski anggota aktifnya hanya berkisar 30-an orang, warna yang mereka berikan pada skena gowes di Solo sangatlah kontras.

“Di sini tidak ada struktur organisasi formal. Kami berkomunitas atas dasar kesamaan hobi dan kecintaan terhadap keindahan sepeda balap lawas,” ujar Ariyanto.

Baca Juga: Geger! Kecurangan UTBK 2026 di Undip, Peserta Ketahuan Sembunyikan Alat Bantu di Telinga

Koleksi mereka pun lintas negara. Mulai dari kerangka besi legendaris asal Italia, Belanda, Jepang, hingga Taiwan. Bagi para anggotanya, sepeda vintage adalah karya seni yang bisa dikendarai. Ada nilai sejarah tentang bagaimana sebuah sepeda dirakit secara manual (hand-built) oleh tangan-tangan ahli puluhan tahun silam.

Aktivitas komunitas ini terbagi dalam dua ritme. Untuk urusan ketahanan, mereka kerap melakoni long ride sejauh 70 kilometer menuju Karanganyar. Udara sejuk Karangpandan dan Matesih menjadi saksi ketangguhan rangka-rangka besi tua ini melahap tanjakan.

Baca Juga: Geopolitik Memanas, Ekspor Sarung Goyor di Kota Solo Tersendat: Pasar Timur Tengah Terganggu, Pengrajin Harap Keajaiban

Namun, di waktu lain, mereka tampil lebih santai. Warga Solo mungkin sering melihat mereka gowes pelan dari satu kedai kopi ke kedai kopi lainnya (coffee ride), membelah kepadatan kota dengan pakaian yang serasi dengan estetika sepeda mereka.

“Aktivitas seperti ini adalah ruang interaksi sosial. Dampak positifnya, kami turut memberi dukungan ekonomi bagi pelaku usaha lokal yang kami singgahi,” tambahnya.

Baca Juga: Disdikbud Sragen Terancam Digugat, Dituding Abai dalam Kasus SMPN 2 Sumberlawang

Eksistensi komunitas ini kian diakui. Setelah sukses menjadi panitia lokal untuk event nasional Ride With Soul bersama Le’Pedale pada penghujung 2025, kini mereka tengah menatap agenda yang lebih besar.

Mei mendatang, mata dunia sepeda klasik akan tertuju pada Klaten International Cycling Festival. Ini bukan sekadar ajang bersepeda, melainkan pameran dan kontes kecantikan sepeda vintage berskala internasional. Bagi Solo Raya Vintage Roadbike, ini adalah momentum pembuktian bahwa tren bersepeda tetap berdenyut kencang meski pandemi telah usai.

Bagi Ariyanto dan kawan-kawan, sepeda vintage menawarkan alternatif yang unik di tengah arus modernisasi. Di sana ada nilai emosional yang tidak bisa dibeli dari toko sepeda modern manapun.

“Solo Raya Vintage Roadbike hadir sebagai pengingat bahwa sesuatu yang lama tidak selalu usang. Justru dari sesuatu yang klasik, lahir sebuah cerita, identitas, dan pengalaman yang tak tergantikan,” ujarnya. (*)

 

Editor : Kabun Triyatno
#Solo Raya Vintage Roadbike #gowes #olahraga #komunitas #klasik