Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Tinggalkan Keramaian Kota, Korniawan Arief Hidupkan BUMDes Mati Suri lewat Program Pertanian Terpadu

Arief Budiman • Minggu, 24 Mei 2026 | 17:23 WIB
Korniawan Arief merawat tanaman pangan dan ternak di lahan milik BUMDes Kapungan, Klaten. (Arief Budiman/Radar Solo)
Korniawan Arief merawat tanaman pangan dan ternak di lahan milik BUMDes Kapungan, Klaten. (Arief Budiman/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Tanah  Desa Kapungan, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, sebetulnya basah dan subur. Aliran sumber air bawah tanah mengalir diam-diam, memberi nutrisi pada hamparan lahan yang sayangnya sempat lama dibiarkan menganggur. Kondisi tanah tersebut menjadi cerminan nyata bagi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat. Ada secara administratif, namun vakum dan mati suri tanpa denyut nadi ekonomi.

Kondisi tersebut berubah ketika seorang lelaki berambut gimbal mengetuk pintu kantor desa. Ia adalah Korniawan Arief, atau yang akrab disapa Gimbal oleh warga sekitar. Mantan videografer yang dulunya akrab dengan lensa kamera dan timeline editing video ini, datang membawa cangkul, draf proposal, dan sebuah visi besar.

Baca Juga: Inspiratif! Driver Pesan-Antar Makanan Online Kuliah di Usia 51 Tahun, Sambil Kuliahkan 2 Anaknya

Kepercayaan itu akhirnya runtuh pada keputusan bulat. Gimbal resmi dilantik menjadi direktur BUMDes Desa Kapungan. Di saat orang lain hanya melihat hamparan tanah kosong, Gimbal melihat sebuah kemungkinan besar.

“Desa Kapungan ini takdir geografisnya memang untuk pertanian. Airnya melimpah dan tanahnya sangat subur, sayang sekali kalau dibiarkan telantar," ujar Korniawan Arief.

Baca Juga: Kisah Riza Azyumardi Azra Menyejahterakan Petani Singkong Banjarnegara, Mengangkat Harkat Petani lewat Butiran Tepung Mocaf

Kalimat tersebut bukan sekadar retorika, melainkan selaras dengan gaung program ketahanan pangan yang sedang digalakkan pemerintah pusat.

Gimbal menginisiasi konsep pertanian terpadu (integrated farming). Usaha ini tidak digarap sendiri, melainkan bersama satu orang rekannya. Dua pasang tangan ini terlebih dahulu membekali diri dengan pelatihan pertanian intensif sebelum benar-benar terjun menjejakkan kaki ke lumpur lahan.

Baca Juga: Melawan Waktu dengan Kayuhan Klasik: Kisah Solo Raya Vintage Roadbike Menjaga Marwah Sepeda Balap Lawas

Di atas lahan BUMDes yang tergolong tidak terlalu luas—sekitar 2.000 meter persegi—Gimbal berhasil membangun sebuah ekosistem pangan yang produktif. Sulur-sulur labu madu (butternut squash) mulai merambat subur, berdampingan dengan batang pepaya california yang sudah tumbuh setinggi dada. Ditanami tanaman buah tahunan jangka panjang, seperti kelengkeng, alpukat, hingga durian.

Berdiri sebuah greenhouse khusus untuk budidaya buah melon yang dirawat secara steril dari ancaman hama dan cuaca ekstrem. Ratusan ekor ayam Elba petelur yang riuh berkotek mengisi kandang-kandang produksi.

"Target kami untuk tahun depan adalah menambah fasilitas kolam ikan," ungkap Gimbal optimistis.

Hal yang membedakan proyek pertanian BUMDes Kapungan dengan pertanian konvensional adalah penerapan filosofi zero waste (bebas sampah). Dalam ekosistem ini, tidak ada satu pun sisa produksi yang terbuang sia-sia ke lingkungan.

Kotoran dari ratusan ayam Elba dialokasikan sebagai pupuk kandang organik bermutu tinggi untuk menyuburkan tanaman labu madu dan pepaya. Sebaliknya, daun-daun kering yang luruh dari tanaman dicacah dan difermentasi untuk dikembalikan menjadi makanan bagi tanah.

Bahkan, draf rencana ke depan, air buangan dari kolam ikan yang kaya akan unsur nitrogen akan dialirkan langsung menggunakan selang ke bedengan-bedengan tanaman. Semua lini terintegrasi dan saling memanfaatkan.

Secara hitungan ekonomi, komoditas labu madu hanya membutuhkan waktu 90 hari untuk masa panen. Artinya, dalam kurun waktu satu tahun, BUMDes Kapungan bisa mengeksekusi tiga kali panen. Sebuah formula matematika yang masuk akal untuk mengisi pundi-pundi kas desa.

Kendati demikian, Gimbal enggan jemawa. Ia sadar betul ancaman fenomena iklim seperti El Nino dan kemarau panjang bisa menjadi batu sandungan. Langkah mitigasi risiko pun telah dipersiapkan secara matang.

Fasilitas sumur bor dan pompa sibel (submersible pump) sudah ditanam di dalam lahan guna menjamin pasokan air harian. Selain itu, pemilihan komoditas juga disesuaikan. "Pepaya california itu karakternya bandel dan tidak terlalu manja air. Sangat cocok untuk menjaga stabilitas produksi jika terjadi kemarau panjang," jelasnya.

Keputusan Gimbal untuk melepas karier lincah di industri media perkotaan dan memilih pulang ke kampung halaman terbukti berbuah manis. BUMDes Kapungan yang dulu mati suri kini telah kembali berdetak kuat. (rif/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#mati suri #bumdes #ketahanan pangan #tanah kosong