Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Menembus Batas Kegelapan Jiwa: Lewat Batik Ciprat, ODGJ Danukusuman Solo Belajar Berdikari lewat Batik Ciprat

Silvester Kurniawan • Minggu, 24 Mei 2026 | 17:30 WIB
Seorang penyandang disabilitas mental membatik di atas kain di Danukusuman, Serengan, kemarin (19/5). (Silvester Kurniawan/Radar Solo)
Seorang penyandang disabilitas mental membatik di atas kain di Danukusuman, Serengan, kemarin (19/5). (Silvester Kurniawan/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Di sebuah rumah bersahaja yang tak begitu luas di kawasan Kelurahan Danukusuman, Kecamatan Serengan, selembar kain primisima putih dibentang seadanya pada keempat sisinya. Siang itu, Selasa kemarin (19/5), seorang warga tampak tersenyum semringah. Tangannya memegang kuas, memulas warna demi warna di atas pola lilin malam dengan penuh penjiwaan.

Sekilas, aktivitas ini tampak seperti proses membatik biasa. Namun, di sinilah letak keajaibannya. Guratan warna-warni tersebut lahir dari jemari seorang penyintas gangguan mental (bipolar). Melalui selembar kain, para orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Danukusuman sedang melukis jalan pulang mereka agar bisa kembali diterima di tengah masyarakat.

Baca Juga: Tinggalkan Keramaian Kota, Korniawan Arief Hidupkan BUMDes Mati Suri lewat Program Pertanian Terpadu

Batik Ciprat produksi Danukusuman ini memiliki karakteristik yang unik. Jika kain batik konvensional melalui proses pewarnaan dengan cara dicelup, di rumah produksi ini teknik yang digunakan justru mirip seperti melukis. Pewarna tekstil dioleskan secara manual menggunakan kuas pada bagian-bagian tertentu sesuai suasana hati si pembuatnya.

“Ada banyak manfaat dari program ini. Pertama, mereka mendapatkan penghasilan mandiri. Namun, manfaat yang jauh lebih besar adalah aspek psikisnya. Mereka menjadi lebih stabil, merasa bahagia, dan kembali beraktivitas karena merasa diakui oleh lingkungan,” ungkap Kuat Karyati, koordinator produksi sekaligus Petugas Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Danukusuman.

Baca Juga: Inspiratif! Driver Pesan-Antar Makanan Online Kuliah di Usia 51 Tahun, Sambil Kuliahkan 2 Anaknya

Saat ini, ada lima warga dengan disabilitas mental yang menjadi sasaran program. Mengingat kondisi kejiwaan yang fluktuatif, baru satu orang yang sudah aktif berproduksi secara stabil, sementara empat lainnya masih dalam tahap penjajakan dan pendampingan intensif. Di tempat ini, target korporasi yang kaku tidak berlaku. Kebebasan berekspresi dan kenyamanan psikologis pekerja adalah hukum tertinggi.

“Sehari paling banyak bisa menyelesaikan lima kain. Tapi semua menyesuaikan kondisi. Kalau mereka lelah atau sedang moody, ya dilanjutkan besok. Kami para relawan hanya membantu di proses akhir, yaitu nglorot (melarutkan lilin malam dengan air mendidih),” tambah Karyati.

Baca Juga: Kisah Riza Azyumardi Azra Menyejahterakan Petani Singkong Banjarnegara, Mengangkat Harkat Petani lewat Butiran Tepung Mocaf

Seluruh keuntungan bersih dari penjualan kain batik ini dikembalikan seutuhnya kepada warga ODGJ yang memproduksinya, sedangkan modalnya diputar kembali untuk membeli bahan baku baru.

Gagasan visioner ini pertama kali dicetuskan pada pertengahan 2025 lalu oleh Putut Kristiawan, yang saat itu menjabat sebagai pelaksana tugas (Plt) Lurah Danukusuman. Melihat tingginya angka penderita gangguan jiwa yang mayoritas berasal dari keluarga prasejahtera, Putut merangkul para kader Keswamas untuk menciptakan sebuah program yang tidak biasa.

"Kami petakan dulu mana yang masuk kategori ringan dan sedang. Mereka didampingi relawan, diberi pelatihan, dan terus dikawal. Alhamdulillah, sekarang pesanan terus mengalir," jelas Putut yang kini menjabat sebagai Sekretaris Kelurahan.

Untuk mengawal program ini, dibentuklah sebuah komite relawan dengan nama yang eksentrik namun penuh arti: Mas Danu Pejantan Solutif (Masyarakat Danukusuman Peduli Jiwa Kesehatan Sosial Luhur dan Inovatif).

Meski baru seumur jagung, Batik Ciprat "Mas Danu" sudah mencuri perhatian. Kain karya warga ODGJ ini telah diwajibkan sebagai salah satu seragam dinas kelurahan, dilarisi oleh para ASN Kota Solo, dan diproyeksikan menjadi seragam resmi pekerja sosial masyarakat di tingkat yang lebih luas.

Tak puas dengan pasar lokal, Teffan Adi Sakti Nugroho, pegiat sosial setempat, memaparkan bahwa kelurahan tengah bersiap membawa produk ini ke pasar digital yang lebih masif melalui fitur live TikTok dan Shopee.

“Semangat kami adalah Bantuan Sementara, Berdaya Selamanya. Kita ingin memutus stigma. Mereka dipantau kesehatannya, sekaligus diberi ruang agar bisa menghidupi diri sendiri secara bermartabat,” pungkas Teffan. (ves/bun)

Editor : Kabun Triyatno
#disabilitas mental #bipolar #Batik Ciprat #odgj #mandiri