RADARSOLO.COM - Di tengah derasnya arus modernisasi dan gempuran hiburan digital yang menyilaukan, seni wayang kulit tetap bertahan sebagai benteng budaya adiluhung Indonesia.
Tak sekadar tontonan, wayang adalah tuntunan—mengajarkan filosofi hidup, etika, serta nilai-nilai luhur warisan nenek moyang.
Namun, pertanyaan klasik kembali mencuat, yakni bagaimana agar warisan ini tetap relevan dan menarik bagi generasi muda yang kini lebih akrab dengan layar gawai daripada suara gamelan.
Melihat adanya hal tersebut kemudian Sumanto, Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah sekaligus pegiat budaya asal Karanganyar, menjawab dengan aksi nyata, yakni secara rutin, ia menggelar pementasan wayang kulit yang dikemas sebagai wahana edukasi dan pelestarian.
Tak hanya menghadirkan dalang senior, panggung ini juga menjadi ajang unjuk kebolehan dalang-dalang cilik.
Dengan konsep "Panggung Masa Depan", pertunjukan digelar setiap selapan (35 hari sekali), selalu diawali dengan penampilan dalang anak-anak.
"Ini adalah ruang latihan bagi para dalang cilik yang selama ini belajar di sanggar. Mereka bukan sekadar pemanis acara, tapi benar-benar kita siapkan sebagai penerus seni pewayangan," jelas Sumanto.
Diungkapkan Sumanto, wayang kulit bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan cermin kehidupan.
"Dalam kotak wayang, semua watak manusia ada. Dari yang bijak hingga yang licik. Ini adalah media pembelajaran karakter," tuturnya.
Ia meyakini, dengan pendekatan yang kreatif dan partisipatif, wayang kulit mampu menyaingi bahkan mengalahkan dominasi hiburan instan dari media sosial.
"Wayang memberikan pencerahan, bukan sekadar hiburan. Ini investasi karakter bagi anak-anak kita," tambahnya.
Disisi lain, menurut Sulardiyanto, salah satu seniman lokal asal Karanganyar yang juga sebagai pegiat wayang kulit, menyambut baik inisiatif ini.
Pihaknya, sangat mengapresiasi peran Sumanto yang merupakan salah satu politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tersebut dalam membuka ruang bagi pelestarian wayang kulit.
"Kegiatan ini menjadi jembatan antara generasi lama dan baru," ujarnya.(Rud)
Editor : Nur Pramudito