Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Dugaan Macan Tutul di Gunung Lawu Karanganyar, BKSDA Sebut Tanda Ekosistem Hutan Sehat

Adi Pras • Senin, 2 Maret 2026 | 20:30 WIB

Ilustasi macan tutul. (Arief Budiman/Radar Solo)
Ilustasi macan tutul. (Arief Budiman/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Di balik rimbunnya kanopi hutan dan terjalnya punggungan Gunung Lawu, sebuah misi krusial untuk masa depan keanekaragaman hayati Indonesia tengah berlangsung.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur bersama Perhutani KPH Lawu merampungkan pemasangan 36 unit kamera pengintai (camera trap).

Lokasinya di 18 petak survei strategis yang tersebar di bentang alam Gunung Lawu wilayah Jawa Timur.

Dilansir dari website BBKSDA Jatim, operasi ini bukan sekadar pemantauan rutin. Ini adalah bagian dari Java Wide Leopard Survey (JWLS).

Sebuah survei berskala nasional yang bertujuan memverifikasi struktur populasi serta menilai kelayakan habitat Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas).

Hasil dari survei ini akan menjadi basis data ilmiah yang sangat vital menjelang pembaruan dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) 2026.

Tim dibagi menjadi empat regu yang bergerak simultan. Dua regu menyisir wilayah Jawa Timur dan dua regu di Jawa Tengah.

Secara total, terdapat 40 petak survei dengan 80 unit kamera yang memantau seluruh bentang alam Lawu.

Khusus untuk wilayah Jawa Timur, sebaran pemantauan dibagi menjadi Lawu Utara delapan petak survei. Sedangkan Lawu Selatan tujuh petak survei.

Meski hasil visual dari kamera pengintai masih memerlukan waktu untuk diolah, tim lapangan telah menemukan indikasi kuat keberadaan Macan Tutul Jawa.

Di sebagian besar petak, ditemukan tanda-tanda kehadiran fisik berupa bekas cakaran pada batang pohon, kaisan tanah, hingga feses (kotoran).

Namun, data lapangan menunjukkan dinamika yang menarik. Dari tujuh petak di Lawu Selatan, terdapat satu petak yang nihil temuan.

Sementara di Lawu Utara, tiga dari delapan petak tidak menunjukkan indikasi jejak. Menariknya, tim berhasil mengumpulkan tiga sampel feses yang akan menjadi "kunci" informasi genetik.

Sampel-sampel tersebut kini telah dikirim ke Laboratorium Satwa Liar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

Kepala BBKSDA Jawa Timur Nur Patria Kurniawan menyebut, JWLS adalah langkah pembuktian ilmiah yang fundamental. Menurutnya, Macan Tutul Jawa adalah "termometer" bagi kesehatan ekosistem hutan.

”Macan Tutul Jawa adalah indikator kesehatan ekosistem hutan kita. Ketika kita berbicara tentang 30 kamera di Lawu, sejatinya kita sedang berbicara tentang kepastian kualitas habitat, ketersediaan mangsa, dan keberlanjutan lanskap,” ujar Nur Patria.

”Data harus berbasis bukti, bukan asumsi. JWLS memberi kita pijakan ilmiah untuk menentukan arah kebijakan konservasi berikutnya,” tegasnya. (adi)

Editor : Adi Pras
#gunung lawu #Kamera Trap #UGM #bksda #perhutani #yogyakarta #macan tutul