Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering, BPBD Karanganyar Wanti-Wanti Ancaman Krisis Air dan Karhutla di Lereng Gunung Lawu

Rudi Hartono RS • Senin, 20 April 2026 | 15:20 WIB
Kebakaran lahan di sekitar tol Solo-Ngawi, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar. (Rudi Hartono/Radar Solo)
Kebakaran lahan di sekitar tol Solo-Ngawi, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar. (Rudi Hartono/Radar Solo)

 

RADARSOLO.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi datang lebih awal, lebih kering, dan berlangsung lebih lama.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Karanganyar Hendro Prayitno mengungkapkan, berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.

”Musim kemarau tahun depan diprediksi lebih ekstrem. Dampaknya bisa cukup luas, mulai dari penurunan debit air hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan,” ujar Hendro saat ditemui Radarsolo.com, Senin (20/4/2026).

Ia menjelaskan, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan berkurangnya debit air di sungai, waduk, maupun sumber mata air.

Baca Juga: Wajah Baru Bumi Intanpari: Dari Kampus Islam Negeri, Lapas Solo hingga Training Center Atlet Kini Ada di Karanganyar

Hal ini tentu berdampak langsung terhadap ketersediaan air bersih bagi masyarakat serta sektor pertanian. Selain ancaman kekeringan, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga dipastikan meningkat.

Terutama di kawasan lereng Gunung Lawu seperti Tawangmangu, Ngargoyoso, dan Jenawi yang selama ini dikenal rawan saat musim kemarau.

BPBD Karanganyar mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran terbuka serta lebih berhati-hati dalam aktivitas yang berpotensi memicu api.

sBaca Juga: Kampanye Hidup Bersih, Warga Gondang Sragen Gencarkan Program Jumpalitan: Ini Artinya

”Jangan membuang putung rokok sembarangan dan pastikan api benar-benar padam setelah digunakan. Sebagian besar kasus karhutla dipicu oleh aktivitas manusia,” tegasnya.

Di sisi lain, masyarakat juga diminta mulai melakukan langkah antisipasi terhadap potensi krisis air bersih.

Di antaranya dengan menghemat penggunaan air, menabung air sebagai cadangan, serta mengelola sumber daya air secara bijak.

Hendro menekankan, kesiapsiagaan sejak dini menjadi kunci utama untuk meminimalkan dampak musim kemarau, baik dari sisi lingkungan, ekonomi, maupun sosial.

Baca Juga: Polisi Sikat Jaringan Obat Keras di Karanganyar, Sita 789 Butir Trihexyphenidyl: Dipasok dari Solo

”Kami mengajak masyarakat bersama-sama menjaga lingkungan dan meningkatkan kepedulian. Upaya pencegahan akan jauh lebih efektif dibanding penanganan saat bencana sudah terjadi,” tandasnya. (rud/adi)

Editor : Adi Pras
#BPBD Karanganyar #gunung lawu #karanganyar #BMKG #musim kemarau