RADARSOLO.COM - Momen Idul Adha identik dengan melimpahnya persediaan daging sapi dan kambing. Tak jarang, kondisi ini memicu sebagian masyarakat untuk mengonsumsinya secara berturut-turut dalam jumlah besar.
Namun, di balik kelezatan gulai, sate, hingga tongseng, ada risiko kesehatan yang mengintai jika dikonsumsi berlebihan. Ahli Gizi RS Soeradji Tirtonegoro Klaten Dian Eka Sari menjelaskan, konsumsi daging sapi maupun kambing berlebih bisa memicu gangguan pencernaan.
"Sistem pencernaan kita dipaksa bekerja lebih keras untuk mencerna lemak dan protein dalam jumlah besar. Dampaknya bisa berupa begah, kembung, sembelit, hingga diare," ujar Dian saat dihubungi radarsolo.com.jawapos.com, Jumat (29/5/2026).
Baca Juga: Perayaan HUT ke-9, Pembukaan JCI x Indriati Health Fest 2026 Diramaikan 350 Peserta
Selain masalah pencernaan, risiko lain yang wajib diwaspadai adalah lonjakan tekanan darah, kadar kolesterol hingga asam urat.
Menariknya, Dian meluruskan salah kaprah yang selama ini beredar di masyarakat mengenai konsumsi daging kambing.
"Kandungan pada daging kambing itu sebenarnya hampir sama dengan sapi dan ayam. Bahkan, kandungan kolesterol dan lemak jenuh pada daging kambing justru lebih rendah dibanding daging sapi,” ujar Dian.
Dian menjelaskan, hal yang membuat kolesterol dan tensi melonjak itu adalah porsi yang berlebihan.
Termasuk cara pengolahannya yang menggunakan santan kental, banyak garam, kecap dan gula jawa.
“Jika dibumbui dengan natrium dan lemak jenuh tinggi, daging memang bisa memicu krisis hipertensi, stroke, hingga serangan jantung. Akibat terbentuknya plak di pembuluh darah,” tambahnya.
Baca Juga: Tips Menjaga Tubuh Tetap Sehat saat Cuaca Panas
Di sisi lain, banyak orang yang banyak mengeluh leher terasa kaku, kencang dan pusing setelah menyantap daging kurban.
Apalagi langsung menyimpulkannya sebagai gejala darah tinggi.
“Hal itu bisa jadi karena efek pelepasan energi panas yang lebih tinggi oleh tubuh saat memproses tekstur daging yang padat.
Dian mengungkapkan jika mulai merasakan gejala pusing atau leher kaku.
Baca Juga: Cuaca Panas, Ini Bahayanya Jika Kebanyakan Minum Es
Ia menyarankan untuk segera minum banyak air putih guna melancarkan metabolisme. Termasuk mencegah dehidrasi yang memperburuk pusing.
Selain itu, sementara waktu stop konsumsi makanan tinggi lemak maupun terlalu manis.
Termasuk melakukan aktivitas seperti jalan kaki sambil mencari udara segar jika gejalanya ringan.
“Setelah beberapa jam mengkonsumsi (daging), diimbangi dengan konsumsi buah dan sayur. Jika kondisi tidak membaik, terutama bagi penderita komorbid untuk segera periksakan diri,” ujar Dian.
Sementara itu, untuk membersihkan sisa lemak dan natrium tinggi usai mengonsumsi daging kurban, Dian merekomendasikan beberapa bahan makanan penyeimbang.
Di antaranya sayuran seperti brokoli, bayam, kangkung dan selada yang kaya serat serta antioksidan.
Baca Juga: Resmi, Mulai 1 Mei 2026 RS Kardiologi Solo Layani Pasien BPJS Kesehatan
Ditambah mengonsumsi buah tinggi serat seperti papaya, apel, pir dan jeruk.
Termasuk direkomendasi meminum minuman helbal seperti teh hijau murni tanpa gula.
Air perasan lemon hangat atau air jahe yang baik untuk meredakan mual dan kembung.
“Pisang dan air kelapa hijau murni juga membantu membuang kelebihan natrium (garam) di dalam tubuh,” tambahnya.
Bagi masyarakat yang ingin tetap aman mengonsumsi daging, Dian memberikan batasan porsi harian yang ideal.
Baca Juga: RS Dr. OEN Kandang Sapi Solo Raih Gold Status World Stroke Organization
Bagi orang dewasa sehat, konsumsi daging merah dianjurkan 70–100 gram per hari (sekira 1–2 potong sedang).
"Sedangkan untuk individu dengan riwayat hipertensi, kolesterol tinggi atau asam urat, batasi maksimal 50 gram saja per hari," jelasnya.
Bagi penderita komorbid yang hendak makan sapi dan kambing juga diwajibkan memilih bagian daging murni.
Termasuk mengolahnya dengan cara direbus, dikukus, dipanggang, atau ditumis minim minyak. (ren)
Editor : Tri Wahyu Cahyono