RADARSOLO.COM – Pondok Pesantren (Ponpes) Kyai Ageng Selo di Dusun Selogringging, Desa Tulung, Kecamatan Tulung, Klaten tak hanya membekali para santrinya dengan ilmu keagamaan. Tetapi juga menyiapkan santrinya menjadi petani muda dengan budidaya buah melon jenis inthanon.
Ponpes Kyai Ageng Selo didirikan oleh Kiai Rahmat Ida Royani dan Ahmad Badri pada Agustus 1998. Kini memiliki santri yang bermukim di ponpes sekira 23 orang. Santri tersebut masih sekolah di jenjang SD maupun SMP.
Lulusannya pun telah menekuni berbagai bidang pekerjaan seperti pertukangan, perdagangan hingga pertanian modern.
”Memang sejak awal berdirinya ponpes Kyai Ageng Selo ini dalam rangka mewadahi santri-santri kurang mampu. Maka itu dibekali berbagai keterampilan dengan menyesuaikan siklus. Awalnya pertukangan, pembuatan tempe, batako hingga paving,” jelas Pengasuh Ponpes Kyai Ageng Selo Heri Sarwoko, Rabu (3/4).
Dulunya para santri juga dibekali di sektor peternakan kambing etawa. Sebelum akhirnya kini menekuni pertanian hidroponik yang dikembangkan dengan sistem modern, yakni budidaya buah melon inthanon.
Memanfaatkan lahan seluas 500 meter persegi dengan membangun green house yang bisa ditanami 100 tanaman buah melon. Dalam budidaya melon itu juga sudah menerapkan teknologi informasi (TI) dalam proses penyiramannya.
Melibatkan setidaknya tujuh santri yang secara khusus merawat tanaman melon dari pembenihan, tanam hingga panen dalam waktu sekira tiga bulan. Meski begitu, seluruh santri di Ponpes Kyai Ageng Selo telah dikenalkan dan dibekali ilmu pertanian hidroponik tersebut.
”Sampai saat ini sudah berjalan lima kali tanam sejak Desember 2021. Bahkan pada panen perdana pada 2022 kami berhasil dengan total 1,2 ton. Bahkan ada yang beratnya sampai 2 kilogram,” ujar Sarwoko.
Rencanannya seusai Lebaran akan dilaksanakan penanaman menggunakan bibit hasil pengembangan hasil rekayasa Ponpes Kyai Ageng Selo. Dari sebelumnya selalu mendatangkan bibit dari Belanda dengan harga cukup mahal.
”Pemasaran kami di pasar modern dengan masuk ke supermarket tertentu saja. Sebagian juga ekspor ke Singapura hingga Timur Tengah. Hasil penjualannya untuk pengembangan ponpes,” ujar Sarwoko.
Kini hasil budidaya buah melon itu diberi nama Sunan Kyase (Kyai Ageng Selo) yang merujuk pada sunan dari daerah Kasunan Surakarta. (ren/adi)
Editor : Adi Pras