RADARSOLO.COM - Prasasti batu berbentuk oval di Dusun Nglumbang Dungik, Desa Soropaten, Kecamatan Karanganom, Klaten akhirnya bisa dibaca setelah empat tahun lebih ditemukan oleh warga setempat. Meski sempat dilakukan pembacaan pada awal 2024 tetapi ada sejumlah penyempurnaan pada 2025
Mereka yang membaca isi prasasti itu adalah para arkeolog dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan lembaga penelitian bernama EFEO dari Perancis.
Pegiat Sejarah dan Cagar Budaya asal Klaten Hari Wahyudi sendiri mendapatkan informasi terkait pembacaan isi prasasti itu sejak Maret 2025.
Dalam laporannya disebutkan bahwa bahan prasasti berasal dari batu andesit dengan ukuran tinggi 19 cm, lebar 28 cm dan tebal 19 cm.
Isi prasasti terdiri dari enam baris yang ditulis pada dua bidang yang bentuknya hampir melingkar.
Ditulis menggunakan aksara kawi dengan bahasa sanskerta campur Jawa kuno. Hanya saja tidak ada angka tahun.
Berikut tulisan dalam prasasti tersebut:
(1) O(m) hyam Visnu
(2) Brahma hya(m) (In)dra (h)yam v(e-)
(3) Sravana hyam maha-
(4) Deva vesrava(na)-
(5) Hastanidhi-Atmaya(r)ji-
(6) Taya svaha
Keterangan: Huruf dalam tanda () adalah perkiraan karena aksara Jawa kuno di posisi tersebut sudah sangat rusak atau hilang sehingga diperlukan penambahan kata agar kalimatnya utuh bisa terbaca.
“Ini laporannya sudah final dan diterbitkan dalam bentuk buku. Untuk prasasti ini berisikan enam baris. Di dalamnya juga terdapat beberapa aksara yang menjadi pembeda denga napa yang terbaca pada awal 2024. Ada beberapa nama dewa yang tidak disebutkan pada pembacaan sebelumnya,” ujar Hari, Minggu (20/4/2025)
Lebih lanjut, Hari mengungkapkan, dari pembacaan terbaru prasasti Nglumbang Dungik terdapat lima dewa Hindu yang disebutkan. Seperti Wisnu, Brahma, Indra, Wisrawana dan Mahadewa.
“Kalau di pembacaan awal 2024 lalu, terdapat kekeliruan di awal pembacaan. Kalau di pembacaan 2024 ada Ganesha tapi kalau di pembacaan terbaru tidak ada. Jadi memang ada beberapa pembeda, tapi ini sudah final,” tambah Hari.
Hari mendapatkan informasi, bahwa proses pembacaan dari isi prasasti itu memakan waktu yang lama.
Dikarenakan prasasti yang ditemukan oleh warga di akhir 2020 itu sudah aus sehingga aksaranya tidak terlalu tampak.
Di sisi lain, untuk pembacaan isi prasasti itu menggunakan teknik fotogrametri yang dilaksanakan oleh peneliti dari EFEO Perancis.
Dilaksanakan dengan cara memotret dari beberapa sudut lalu dilanjutkan dengan aplikasi khusus untuk bisa mengidentifikasi aksara yang sebelumnya tidak tampak.
“Tapi kalau maknanya hampir sama dengan laporan di 2024, yakni terkait mantra pemujaan terhadap dewa-dewa umat Hindu. Berisikan puji-pujian dengan adanya harta karun. Jadi di prasasti itu dijelaskan adanya harta karun atau kekayaan. Dimana harus memuji dewa-dewa,” ujar Hari.
Hari menyebut bahwa harta kartun yang dimaksud tidak selalu terkait materi saja. Tetapi juga bisa mengenai ilmu pengetahuan. Maka itu harta karun yang tersebut dalam isi prasasti tersebut lebih mengenai ilmu pengetahuan.
Sebagai informasi, prasasti batu itu ditemukan pada 18 Desember 2020. Saat itu warga hendak melakukan pengerasan jalan di dusun setempat. Posisi prasasti batu itu terpendam dan hanya terlihat sedikit di permukaan tanah.
Setelah diangkat, prasasti batu itu diletakan di pinggir jalan selama satu minggu. Kemudian terkena hujan dan terlihat guratan garis-garis.
Kemudian temuan itu dilaporkan kepada Dinas Kebudayaan Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Klaten.
Sempat diambil oleh disbudporapar untuk dilakukan kajian. Tetapi selama 1,5 tahun berlalu tidak membuahkan hasil.
Dikarenakan kesulitan dalam membaca isi prasasti tersebut. Kemudian BRIN dan EFEO turun tangan dan akhirnya berhasil dibaca setelah melalui penelitian yang dilakukan secara mendalam.(ren/adi)
Editor : Adi Pras